panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Ragam
11 Mei 2012
Melacak Jejak Kematian dengan Autopsi Forensik
BEBERAPA waktu lalu kasus TKI yang meninggal di Malaysia, dengan kondisi tubuh terdapat beberapa jahitan dan diduga karena dicuri organ tubuhnya, menjadi pembicaraan banyak orang.

Langkah-langkah yang kemudian ditempuh untuk melakukan autopsi terhadap para korban pun, tak luput dari perhatian banyak orang. Ada apa sebenarnya dengan autopsi itu?
Autopsi berasal dari kata auto yang berarti sendiri dan opsis artinya melihat. Jadi autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat dari luar dan dalam, dengan tujuan menemukan suatu penyakit dan atau adanya cidera.
Kemudian, melakukan penilaian atas penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.

Autopsi ada dua, yaitu autopsi klinik dan forensik. Autopsi klinik dilakukan terhadap mayat seseorang yang menderita penyakit, kemudian dirawat di rumah sakit dan meninggal.
Tujuan dilakukan autopsi klinik untuk menentukan sebab kematian yang pasti, menentukan apakah diagnosis yang dibuat selama sakit sesuai dengan diagnosis setelah meninggal.
Selain itu, untuk mengetahui pasti proses penyakit yang ditemukan selama dirawat dengan gejala ñ gejala klinik, lalu menentukan efektivitas pengobatan, mempelajari perjalanan suatu penyakit, dan untuk pendidikan para mahasiswa kedokteran serta para dokter autopsi klinik diperlukan izin dari keluarga.

Izin Keluarga

Autopsi forensik dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan UU dengan tujuan membantu identitas mayat, menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian serta waktu kematian.
Untuk melakukan autopsi forensik diperlukan surat permintaan pemeriksaan dari yang berwenang, dalam hal ini penyidik. Izin keluarga tidak diperlukan. Bila ada seseorang menghalang-halangi, yang bersangkutan dapat dituntut berdasarkan UU yang berlaku.

Dalam autopsi forensik harus dilakukan pemeriksaan lengkap, yaitu pemeriksaan tubuh bagian luar, pembukaan rongga tengkorak, rongga dada, dan rongga perut serta panggul.
Juga dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya seperti toksikologi forensik, histopatologi forensik, serologi forensik dan biologi molekuler (bila diperlukan).
Autopsi forensik harus dilakukan oleh dokter, dan disarankan dokter spesialis forensik serta tidak dapat diwakilkan oleh siapapun.

Autopsi klinik maupun autopsi forensik harus dikerjakan secara teliti, kelainan sekecil apapun harus dicatat. Autopsi harus dilakukan sesegera mungkin karena proses pembusukan berjalan terus dan pada tubuh mayat dapat terjadi perubahan-perubahan yang bisa menimbulkan kesulitan dalam menginterprestasikan kelainan yang ditemukan.

Teknik Autopsi

Beberapa teknik autopsi antara lain, Virchow yakni pembukaan rongga tubuh dengan mengeluarkan organ-organ  satu persatu dan langsung diperiksa. Kedua, Rokitansky, yakni setelah rongga tubuh dibuka organ dilihat dan diperiksa dengan melakukan beberapa irisan, baru kemudian seluruh organ dikeluarkan. Namun, teknik ini jarang dilakukan.
Teknik berikutnya adalah Letulle, yakni seluruh rongga tubuh dibuka, lalu organ leher dada, diagfragma dan perut dikeluarkan sekaligus. Berikutnya teknik Ghon, yaitu setelah rongga tubuh dibuka, organ leher, dada, pencernaan beserta hati dan limpa, serta organ urogenital diangkat ke luar.

Di bagian ilmu kedokteran forensik biasanya digunakan teknik autopsi yang merupakan modifikasi teknik Letulle. Organ tidak dikeluarkan sekaligus tetapi dalam dua kumpulan. Organ leher dan dada sebagai satu kumpulan, organ perut serta urogenital sebagai kumpulan lain, dan sebelumnya usus diangkat dulu.

Mayat yang akan diautopsi diletakkan telentang dengan bagian bahu diganjal sepotong balok kecil, sehingga kepala akan terangkat dan daerah leher tampak jelas. Irisan / insisi kulit bisa berbentuk I atau Y .

Insisi I merupakan insisi paling ideal, karena dari leher ke arah rongga perut sampai di atas kemaluan akan terlihat jelas. Kalau insisi Y dimulai dari kedua puncak bahu bertemu pada daerah dada terus ke arah perut sampai kemaluan.
Irisan insisi Y biasanya dilakukan bila ada kekerasan di daerah leher, seperti gantung, jerat, cekik tidak hilang, karena irisan Y akan melewati daerah yang kena jejak tersebut di leher.

Setelah seluruh rongga tubuh terbuka dari kepala sampai genital (kemaluan), organ - organ dikeluarkan untuk dilihat kelainan- kelainan yang ada. Setelah selesai semuanya dikembalikan sesuai posisi anatomi tubuh.
Semua ditimbang dan dicatat, apakah normal atau ada kelainan. Sebelum organ dikembalikan ke dalam tubuh jenazah, kemungkinan diperlukan potongan-potongan jaringan guna pemeriksaan histopatologik atau toksikologi (misalnya, korban miras, gas beracun atau makanan beracun). (Kompol dr Summy Hastry Purwanti SpF, Kasubbidokpol Biddokes Polda Jateng-12)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER