panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
05 April 2012
Paskah dan Makna Kematian Yesus
  • Oleh Eko H Mudjiharto
BAGAIMANA Anda memandang Yesus? Sebagai bayi yang baru lahir di palungan? Sebagai pria yang sekarat di tiang siksaan atau raja yang ditinggikan? Yesus tentu bukan lagi bayi lemah atau pria sekarat dan tengah menghadapi kematian di tiang siksaan. Ia kini adalah raja yang bertahta di surga.

Namun, bagaimana orang-orang memaknai Paskah, yang sering diperingati sebagai peringatan akan kematian Yesus? Paskah sebenarnya adalah perayaan orang-orang Yahudi untuk memperingati pembebasan mereka dari perbudakan bangsa Mesir ribuan tahun lalu. Peringatan itu terus mereka lakukan hingga kini.

Hampir 2.000 tahun lalu Yesus wafat tepat saat orang Yahudi merayakan Paskah, tanggal 14 Nisan. Malam sebelum kematiannya, Yesus menyantap jamuan Paskah bersama rasul-rasulnya dan kemudian Ia menetapkan suatu perjamuan yang baru untuk memperingati kematiannya.

Perjamuan itu, yang dikenal sebagai Perjamuan Malam Terakhir inilah yang kemudian dikenang dan diperingati banyak  orang Kristen hingga kini. Sebab, ketika itu Yesus mengatakan kepada para muridnya,’’ Teruslah lakukan ini sebagai peringatan akan Aku.’’

Yesus mengajak kita untuk memperingati perjamuan dan kematiannya dengan menggunakan roti dan anggur sebagai lambang. Roti menggambarkan tubuh Yesus dan anggur menggambarkan darahnya.
Mengapa Mati? Roti yang digunakan tidak beragi. Dalam Alkitab dikatakan, ragi untuk menggambarkan dosa. Jadi, roti tidak beragi cocok untuk melambangkan tubuh Yesus yang sempurna. Dia mempersembahkan tubuhnya sebagai korban. Adapun anggur adalah lambang darah Yesus yang berharga, yang dicurahkan sebagai korban bagi dosa-dosa manusia.

Namun mengapa Ia mati? Alkitab mengatakan, ‘’Putra manusia datang memberikan kehidupannya sebagai tebusan untuk penukar bagi banyak orang.’’ Alkitab juga menandaskan pentingnya kematian Yesus.
Sebuah karya referensi (Watch Tower, April 2011) mengatakan, kematian Yesus disebutkan langsung lebih dari 175 kali dalam Kitab-kitab Yunani Kristen atau Perjanjian Baru. Namun, mengapa  Ia harus menderita lalu mati?
Yesus tahu apa yang bakal terjadi. Ia mengerti bahwa Ia tidak akan hidup damai. Ia juga sadar bahwa hidupnya akan berakhir tragis dalam usia 30-an, dan Ia siap menghadapi kematiannya.

Pada akhir kehidupannya, Yesus beberapa kali memperingatkan para muridnya tentang penderitaan dan kematian yang akan dialami. Ia memahami betul tentang banyak nubuat dalam Kitab-Kitab Ibrani yang meramalkan bagaimana kehidupannya akan berakhir.

Setidaknya ada lima nubuat besar dialaminya, yakni bagaimana Ia dikhianati, dipukul dan diludahi, dipantek, dicerca di tiang siksaan, dan dihukum mati. Bahkan hukuman mati diterimanya melalui pengadilan yang jauh dari rasa keadilan.

Menggenapi Nubuat

Yesus menerima vonis pengadilan itu dengan pasrah karena Ia yakin bahwa Allah memiliki maksud tujuan mulia, baik baginya maupun bagi umat manusia.  Sang Mesias menggenapi semua nubuat tersebut dan juga banyak nubuat lainnya. Mustahil Ia melakukan semuanya dengan upaya sendiri. Pasti ada campur tangan Allah di dalamnya.  Penggenapan terhadap nubuat yang dilakukan itu membuktikan bahwa Ia memang diutus oleh Allah.

Maka, jawaban atas pertanyaan mengapa Ia mati, pertama; kematiannya untuk menyelesaikan dua sengketa penting, yakni kedaulatan Allah dan integritas manusia. Melalui Adam dan Hawa yang memilih untuk tidak menaati Allah, Yesus menunjukkan bahwa manusia sempurna dapat mempertahankan integritas sempurna kepada Allah, meski menghadapi cobaan paling berat.

Kedua; kematiannya untuk menebus dosa manusia. Yesus jelas memahami hal ini dan Ia rela memberikan jiwanya sebagai tebusan untuk penukar bagi banyak orang. Kematiannya sebagai korban membuka jalan bagi manusia yang tidak sempurna untuk memiliki hubungan baik dengan Allah, dan untuk dibebaskan dari dosa dan kematian.
Kematian Yesus juga membuka kesempatan bagi manusia untuk mendapatkan kembali apa yang telah dihilangkan Adam dan Hawa, yaitu prospek kehidupan selama-lamanya di bumi dalam keadaan yang sempurna. (10)

— Eko H Mudjiharto, wartawan Suara Merdeka di Semarang
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER