panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
07 Maret 2012
Bibit: Uji Coba Berhasil, Kembangkan!
  • Road Test Biodiesel Nyamplung
SEMARANG- Gubernur Jateng Bibit Waluyo memberi apresiasi terhadap kreativitas Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Lestari, Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Purworejo. Mereka berhasil memproduksi dan mengembangkan bahan bakar biodiesel berbahan baku biji nyamplung.

Bibit mengatakan itu ketika menerima rombongan road test biodiesel nyamplung di halaman kantor gubernur, Semarang, Selasa (6/3) pagi. Sekitar 35 peserta uji coba yang dipimpin Bupati Purworejo Mahsun Zain menggunakan delapan mobil, berkunjung ke kantor gubernur untuk memperkenalkan bahan bakar alternatif tersebut.

Dalam kesempatan itu, Bibit didampingi Kepala Dinas Kehutanan Jateng Sri Puryono serta sejumlah pejabat terkait.
Gubernur awalnya menanyakan hasil uji coba dari Purworejo-Cilacap-Semarang. Setelah mendapat penjelasan bahwa uji coba menunjukkan hasil yang hemat dan pembakaran mesin mobil bagus, dia tertarik. Gubernur menyempatkan diri beberapa kali mengemudikan mobil berbahan bakar biodisel nyamplung berkeliling halaman kantor.
Dia pun mendukung pengolahan nyamplung menjadi bahan bakar. Apalagi karena tanaman nyamplung banyak tumbuh di pesisir.

Ekonomi Rakyat

Gubernur berharap daerah-daerah yang punya potensi memberdayakan pohon nyamplung. Tak hanya di Purworejo, tetapi juga wilayah lain seperti Karimunjawa. Dengan pemberdayaan masyarakat pesisir lewat penanaman pohon nyamplung, diharapkan bisa menumbuhkan ekonomi kerakyatan.
’’Ide untuk menginovasi nyamplung menjadi bahan bakar sangat bermanfaat. Ini bisa membantu perekonomian rakyat wilayah pesisir atau hutan yang tidak produktif,’’ kata Bibit.
Bahan baku alternatif pengganti solar ini, lanjut Bibit, mudah dikembangkan. Satu kilogram nyamplung basah biasanya dijual sekitar Rp 750/kg.

’’Silakan dikembangkan tapi jangan sampai merusak atau menggusur tanaman pangan lain.’’
Namun Bibit meminta uji coba diselesaikan dulu. Dia ingin bukti biodiesel nyamplung memang baik, minimal setara dengan solar. ’’Kalau memang baik, mengapa tidak diproduksi secara berkelanjutan,’’ katanya.
Sementara itu, Direktur CV Cahaya Khatulistiwa Bantul, Akhmad Arif Fahmi, yang ikut terlibat dalam pengolahan minyak nyamplung, memaparkan, saat ini kapasitas mesin produksi CV Cahaya adalah 200 liter/hari. Namun karena produksi dilakukan hanya delapan jam, per hari baru dihasilkan 100 liter. Dengan produksi 100 liter/hari belum ada laba, baru cukup untuk biaya produksi dan operasional.

Administratur Perhutani KPH Kedu Selatan, Agus Priantono, merasa tertantang. Lahan hutan nyamplung yang saat ini baru seluas 132 hektare, akan dikembangkan sampai 500 ha. Upaya itu untuk mencukupi kebutuhan pengolahan nyamplung menjadi biodiesel.

Uji coba hari kedua kemarin, rombongan berangkat dari Semarang sekitar pukul 10.00. Mereka menuju Kabupaten Gunungkidul melalui Salatiga, Kartasura, Klaten, dan Prambanan. Menurut rencana Rabu pagi ini rombongan diterima Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. (yon,J17,J14-43)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER