KEBIJAKAN pemerintah membatasi persediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk mobil pribadi dengan tahun produksi di atas 2005, tidak serta merta menjadikan pengendara mobil beralih ke BBM nonsubsidi. Alasan ekonomis, membuat pengendara mobil tahun 2005 ke atas masih memilih BBM bersubsidi.
’’Harga BBM subsidi ini lebih murah. Saya merasa tidak nyaman saja menggunakan Pertamax. Harganya juga relatif mahal. Selisih Rp 2.000 per liter,’’ ujar Adrian Siswanto (35), pengguna mobil Suzuki Swift GT keluaran 2008, kemarin.
Sama halnya Adrian, Megasari (18) juga menggunakan BBM subsidi untuk mobil Honda Jazz keluaran 2010 yang dikendarainya. Pertimbangannya, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Plus lebih mahal dibanding harga BBM subsidi. Untuk harga BBM subsidi sekitar Rp 4.500/liter dan Pertamax Plus dengan harga Rp 7.000/liter.
Kondisi itu menggambarkan para pengguna mobil masih membeli BBM bersubsidi karena murah. Padahal, menurut Teknisi Otomotif di Astra Group Erwin Karta, BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Plus untuk mesin bensin atau Pertamina Dex untuk mesin solar banyak memiliki keuntungan.
Kandungan oktan yang lebih tinggi pada Pertamax mampu membuat mesin lebih bertenaga. ’’Selain itu, BBM nonsubsidi mengandung zat pembersih, sehingga membuat saluran bahan bakar kendaraan menjadi bersih, mulai dari tempat penampungan hingga ke ruang bakar. Karenanya, pembakaran menjadi sempurna,’’ paparnya.
Terhadap rencana pemerintah pada 2011 yang menerapkan larangan bagi kendaraan dengan mesin berkapasitas di atas 2.000 cc dan tahun pembuatan di atas tahun 2005, sebagian besar pemilik kendaraan keberatan.
“Saya tak sepakat. Kami kan juga warga negara Indonesia yang tiap tahun membayar pajak. Seharusnya kami juga berhak mendapatkan BBM bersubsidi,” kata Anshori (29), pemilik kendaraan Fortuner.
Sulit Dilaksanakan
Selain itu, Anshori memperkirakan dalam praktiknya, pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi bisa sulit dilaksanakan. Sebab, kata dia, akan ada saja warga yang tidak berhak mencari akal untuk tetap bisa menggunakan BBM bersubsidi.
Ariyanto (38), pemilik kendaraan Honda Cielo tahun 1994 dengan kapasitas 2.000 cc juga mengamini sepakat dengan Anshori.
Ariyanto mengakui kendaraannya memang tergolong boros. Rata-rata kendaraannya memakan BBM jenis Premium 10 kilometer per liter.
Selain itu, kebijakan ini turut memukul para pelaku usaha jasa rental mobil. Bagus (35), pemilik Plamongan Rental mengaku, sejauh ini belum mendapatkan kejelasan informasi terkait mulai kapan kebijakan tersebut akan direalisasikan. ’’Informasi sudah dengar, tapi belum ada soasialisasi,’’ ujarnya.
Kendati demikian, penerapan pemakaian BBM nonbersubsidi (Pertamax) pada mobil produksi 2005 ke atas, tentu akan berpengaruh bagi kelangsungan usahanya. Selama ini penggunaan BBM diserahkan pada pemakai atau penyewa mobil. Kecenderungannya mereka akan lebih memilih Premium, karena harganya yang jauh lebih murah dibanding Pertamax.
Hal senada juga diungkapkan Agus (29), pemilik Jawa Car Rental, yang berada di Jl Sumurboto II No 9 Banyumanik. Menurut pria yang menyewakan 10 armada mobil ini, pemberlakuan BBM nonbersubsidi ini memang tidak akan berdampak pada kenaikan tarif sewa.
Namun akan berpengaruh pada membengkaknya biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan penyewa, sehingga lambat tapi pasti, order akan berkurang.
’’Pasti akan berdampak, pemilik akan berpikir ulang untuk menyewa mobil. Karena untuk sewa saja sudah mahal, masih ditambah pengeluaran BBM,’’ tukasnya. (Fista Novianti, Hartatik-16)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad