panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
25 September 2010
Polres Pati Kaji Ulang Izin Pentas Dangdut
  • Tawuran Terjadi Lagi
PATI- Semakin merebaknya tawuran antarkampung, Polres Pati telah mengkaji ulang pemberian izin pentas hiburan musik dangdut di wilayah hukumnya. Namun, pihaknya belum menentukan apakah hal itu akan diberlakukan khusus daerah rawan konflik atau seluruhnya.

“Kami masih fokus di Desa Baturejo dan Wotan, Kecamatan Sukolilo untuk pelarangan penyelenggaran pertunjukan musik melayu untuk sementara ini. Kami mengimbau untuk diganti dengan kegiatan rohani, seperti pengajian,” ujar Kapolres Pati AKBP Drs Listyo Sigit Prabowo MSi melalui Kabag Ops Kompol Mulyadi, saat dihubungi wartawan, kemarin.

Pihaknya tidak mengelak jika tawuran antarkelompok warga belakangan ini salah satu pemicunya adalah hiburan dangdutan. Termasuk gesekan antarwarga yang terjadi, Kamis (23/9) petang di Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil.

Sementara itu, tawuran antarpemuda kembali terjadi. Kali ini di Dukuh Mojosemi dan Dukuh Mojoagung. Saat hiburan yang berlangsung di Dukuh Mojosemi dalam rangka peringatan HUT Serikat Pekerja Desa (PSD) itu, beberapa kali gesekan terjadi.

Kondisi tersebut membuat panitia menghentikan pertunjukan satu jam sebelum jadwalnya berakhir, yakni pukul 16.00.

Sedianya, acara yang dirangkai dengan pengajian pada malam sebelumnya itu, digelar Agustus. Namun karena tahun ini bertepatan dengan puasa, maka diundur hingga setelah Lebaran.

Dilempari Batu

Sudah menjadi kebiasaan SPD yang beranggotakan ratusan pekerja kuli angkut ketela di sejumlah perusahaan tepung tapioka di desa itu ketika merayakan HUT organisasinya menggelar dua acara. “Kalau tidak nanggap wayang ya dangdutan,” ujar Kepala Desa (Kades) Mojoagung Tejo Pramono SH, semalam.

Gesekan antarwarga dua dukuh itu, diakuinya kerap terjadi. Namun baru kali ini berbuntut tawuran. Bentrok yang terjadi sekitar pukul 15.15 tersebut berlangsung di luar arena dangdutan. Kejadiannya justru di Jalan Raya Pati-Tayu, tepatnya di jembatan sebelah utara kantor desa setempat.

Sejumlah warga mengatakan, tawuran pecah ketika dua orang warga Mojosemi melintas di jalan tersebut seusai dangdutan. Tanpa alasan jelas, mereka dilempar batu oleh sejumlah orang yang berada di pinggir jalan.

Hal itulah yang diduga memicu perkelahian antarkelompok warga terjadi.

Kelompok pemuda dua dukuh saling lempar batu dan kayu selama hampir 30 menit sehingga membuat arus lalu lintas macet.
Tawuran berhenti setelah aparat Polres Pati datang ke lokasi kejadian. Upaya melerai bentrok baru diindahkan dua kelompok setelah polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara.

Beberapa saat setelah pertikaian reda, kades beserta perangkatnya didampingi polisi mengundang tokoh pemuda dua dukuh.
Mereka diminta untuk tidak memperpanjang perkelahian massa itu dan menyepakati perdamaian.

“Tokoh masing-masing dukuh, termasuk korban yang terkena lemparan batu sudah kami pertemukan dan sepakat untuk damai. Kebetulan tidak ada korban yang luka parah sehingga tidak berkepanjangan,” jelasnya yang dibenarkan perangkat desa Sukron.
Perundingan dengan dua pihak berlangsung satu jam lebih.

Kesepakatan damai itu terwujud pukul 19.30 di kantor desa. Apabila terulang pihaknya menyerahkan penanganannya ke pihak berwajib dengan memproses hukum mereka yang terlibat.
Untuk mengantisipasi tawuran susulan, sejumlah aparat kepolisian disiagakan di desa tersebut.

Insiden tersebut menambah panjang daftar kejadian tawuran di Pati dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, pada Sabtu (18/9) lalu, bentrok antarkelompok warga pecah di dua daerah.

Pada pagi hari, tawuran antarwarga yang tergolong besar terjadi di Dukuh Bombong, Desa Baturejo. Kelompok warga setempat bentrok dengan desa tetangganya Wotan dan mengakibatkan tujuh rumah terbakar dan belasan lainnya rusak.

Puluhan orang juga dilarikan ke sejumlah rumah sakit lantaran terluka akibat tembakan senapan angin, tertembus anak panah, dan terkena bom molotov.

Malam harinya, giliran kelompok warga Dukuh Plosokerep, Desa Prawoto dan Dukuh Ngandong, Desa Pakem yang tawuran. Peristiwa tersebut mengakibatkan enam warga Plosokerep terluka.(H49-53)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER