panel header
RUKUN AGAWE SANTOSA
Bersatu Kita Teguh
panel menu
panel news ticker
Dalam rangka HUT Ke-62 Suara Merdeka, Lenssociety akan menggelar SUARA MERDEKA PHOTO RALLY, Minggu (12/2). Disediakan hadiah uang tunai Rp 12 juta, doorprize kamera DSLR Nikon dan Canon, Blackberry, handphone, televisi, voucher hotel, dan lain-lain. Kontribusi Rp 50.000/peserta, mendapatkan kaus dan makan siang. Pendaftaran di kantor SM, Gedung Unaki Jalan Pemuda 95-97 Semarang, Wahyudi (081326700700), Tom (08122575555), dan Star Flash Jalan Thamrin No 65 Semarang telepon 08156561800.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Muria
20 Juli 2010
Ombak Ancam Hutan Mangrove di Tluwuk
  • Butuh Penahan Gelombang
PATI-Ganasnya gelombang laut belakangan ini mengancam terjadinya abrasi di kawasan pantai dan hutan mangrove. Untuk menghindari kerusakan sabuk hijau (green belt) di kawasan pesisir Desa Tluwuk, Kecamatan Wedarijaksa, sangat dibutuhkan penahan gelombang.

Pengadang ombak di tepi pantai itu dibuat dengan memanfaatkan ban bekas yang dirangkai dengan kayu atau bambu. Direncanakan, bangunan tersebut ditenpatkan di sejumlah titik yang rawan abrasi.

Tokoh masyarakat setempat Ir H Sukarno mengatakan, ombak menjadi kendala utama bagi kehidupan mangrove di daerahnya. Apabila dibiarkan, tanaman berupa pohon bakau dan api-api akan tercerabut dan mati tersapu ombak.

"Hutan mangrove di sini masih butuh pengembangan meskipun kondisinya relatif baik dari kawasan pesisir lain. Tetapi ombak besar sangat mengkhawatirkan dan perlu penahan agar tanaman yang ada tidak hilang," ujarnya, kemarin.

Saat ini di Tluwuk dan tiga desa di sekitarnya, Kertomulyo (Kecamatan Trangkil), Margomulyo, dan Tunggulsari (Tayu) menjadi sasaran program penghijauan pesisir dari Organization for Industrial and Cultural Advancement (OISCA-International). Sedikitnya 20 hektare lahan di empat desa itu ditanami tanaman bakau dan api-api baru.

Sebagian besar lahan tersebut merupakan tanah timbul di sekitar hutan mangrove yang telah ada. Namun dalam setahun terakhir tanaman seluas 20 hektare tersebut terancam ombak.

60 Persen

Koordinator Nasional Program Penghijauan OISCA M Prihartanto Nur Rahmat mengatakan, keberhasilan penanaman bakau (Rhizophora) dan api-api (Avicennia) di Pati diperkirakan lebih dari 60%. Hanya, perlu alat pemecah ombak (APO) agar keberhasilan tersebut tidak merosot.

"Kami evaluasi terus setiap tahunnya. Kalau memang di sini berhasil dalam satu periode (lima tahun-Red) maka akan kami teruskan. Tetapi kalau tidak, ya kami geser ke daerah lain," katanya yang mengevaluasi penanaman kedua jenis tanaman mangrove di Tluwuk.

OISCA yang merupakan LSM pelaksana program green belt pesisir dari lembaga donor Tokyo, Jepang sebelumnya juga menghijaukan 286 hektare kawasan pantai di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak.

"Setelah kerusakan hutan mangrove yang luar biasa pada 1980-an di Jawa karena pembukaan tambak besar-besaran untuk budidaya udang windu, kami mulai menghijaukan kembali. Pada periode ini (2009-2013) daerah yang kami hijaukan mulai Indramayu, Pekalongan, Demak, Jepara, Pati, Pamekasan, dan Sumenep," jelasnya.

Dari semua daerah itu, termasuk di Pati selain ancaman gelombang, kesadaran masyarakat tentang kelestarian alam yang masih rendah juga menjadi faktor penghambat penghijauan.

"Lihat saja di pantai ini, sampah masih banyak. Ini jelas menghambat pertumbuhan mangrove. Untuk itu perlu kesadaran bersama mulai dari hulu hingga hilir," tandasnya.(H49-42) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER