SEMARANG - Sebanyak 28 kepala keluarga (KK) transmigran asal Jateng, Minggu (16/5), pulang ke kampung halaman dengan menumpang KM Karma Kencana.
Selama lima bulan, nasib mereka di lokasi transmigrasi Desa Putusibu, Kecamatan Matebah, Kabupaten Kepala Burung, Kalimantan Barat (Kalbar), tak jelas. Lahan garapannya masih dalam sengketa.
Bersama keluarganya berdasarkan data ada 77 orang, mereka terpaksa meninggalkan rumah beserta tanahnya untuk kembali ke kampung halaman.
Rombongan tiba di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, sekitar pukul 15.00.
Untuk sementara, mereka ditampung di Wisma Transito milik Disnakertransduk Jateng, Jl Raya Walisongo, Semarang.
Suwandi, warga Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang mengemukakan, rombongan berangkat ke Kalbar sekitar Desember 2009 lalu. Sesuai janji pemerintah, mereka bakal mendapatkan rumah beserta pekarangan seluas 250 m2 dan lahan garapan seluas 2 ha.
Ternyata, lahan garapan itu masih dalam sengketa dengan penduduk Desa Sukamaju. Pihaknya pun sempat mempertanyakan ke BPN setempat dan dibenarkan.
”Karena masih sengketa, kami terpaksa bercocok tanam pada lahan pekarangan. Namun lahan itu tidak bisa maksimal. Sebagian lagi memilih bekerja serabutan. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke kampung,” katanya.
Hal yang sama dituturkan Muslimin, transmigran asal Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal. Untuk pulang saja, sebagian menjual gabah maupun sisa uang simpanan.
”Terus terang, kami ini sudah tidak membawa uang. Masih ada 20 KK lagi yang masih menetap di sana. Mereka mau pulang, tapi tidak punya uang,” katanya.
Lahan Pengganti
Bagi Suwandi maupun Muslimin yang mewakili transmigran tersebut, sebenarnya lahan garapan itu menjadi salah satu mata pencahariannya. Namun, warga Desa Sukamaju menghalang-halangi. Bahkan, situasi dan kondisi di sana sudah tidak aman.
Warga setempat, kata Muslimin, siap bentrok bila transmigran masih nekat menggarap lahan.
Selanjutnya, di Semarang ini mereka berencana untuk menemui Komisi E DPRD Jateng. Tuntutannya supaya janji penyediaan lahan garapan untuk segera dipenuhi. ”Kami siap kembali, kalau lahannya ada. Jangan diberi yang jadi sengketa,” tandasnya.
Kepala Dinakertransduk Jateng, Siswolaksono, sampai kemarin belum bisa dihubungi. Upaya konfirmasi lewat pesan singkat pun tak juga dibalas.
Anggota Komisi E Masruhan Syamsurie berjanji akan mempertemukan warga dengan Pemprov Jateng.
”Pemerintah harus carikan lahan pengganti, supaya mereka bisa kembali bekerja,”ujarnya. (H23,H37 -61 )
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad