SEMARANG- Serbuan tekstil khususnya jenis batik dari China yang semakin gencar diperkirakan bakal melemahkan minat para produsen berskala kecil (UKM) dan lebih mendorong untuk beralih menjadi pedagang.
Menurut Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono, kecenderungan produsen batik beralih menjadi pedagang sudah mulai terasa.
Hal ini bisa disebabkan keuntungan yang lebih besar ketimbang sekadar memproduksi. Apalagi harga tekstil bermotif batik dari China jauh lebih murah berkisar 15%-25% dibanding batik lokal.
’’Banyak produsen lokal yang kesulitan biaya produksi, terutama bahan bakar minyak serta pewarna yang masih banyak harus diimpor. Kebutuhan minyak tanah untuk membuat batik tulis atau cap juga sangat tinggi, sedangkan harganya sekarang di kisaran Rp 9.000/liternya,’’ tutur Alpha di sela-sela diskusi di Balitbang Jateng Jalan Imam Bonjol Semarang.
Tingginya biaya produksi para perajin juga tidak serta merta bisa mendorong harga jual ke konsumen kaerna jelas kalah dengan tekstil batik China yang lebih terjangkau.
Dikatakan, di Kelurahan Laweyan, kini masih terdapat sekitar 60 industri kecil menengah, tetapi hanya 20-an yang murni produsen batik, sedangkan sisanya adalah setengah pedagang atau pedagang batik murni.
’’Pengakuan UNESCO terhadap batik seharusnya juga diikuti dengan berkembangnya produsen batik dan bukannya malah menyusut. Jika industri batik di Indonesia, terutama produsennya terus menyusut, pengakuan itu patut dipertanyakan,’’ papar Alpha yang juga masih memproduksi batik ini.
Kendati bisa melemahkan semangat para produsen, dia menuturkan, para perajin batik sebagian besar terus mencoba desain-desain baru untuk memperkaya motif yang ada. Keanekaragaman motif yang dihasilkan diharapkan mampu memberi daya tarik tersendiri bagi konsumen lokal.
Bahan Alternatif
Sampai saat ini, beberapa upaya lain yang sudah pernah dilakukan untuk menekan biaya produksi, di antaranya mencoba bahan bakar alternatif seperti bioetanol atau elpiji. Tetapi rupanya, masih belum seefektif seperti halnya minyak tanah.
Selain membutuhkan waktu pembakaran lebih lama, bioetanol dan elpiji jauh lebih mahal. Sebelumnya, perajin Batik Semarang 16, Umi S Adisusilo mengungkapkan, produk seperti halnya tekstil batik China juga bisa ditemui pasar tradisional Johar. Keberadaannya juga menarik perhatian, mengingat bahan yang digunakan kualitasnya cukup lumayan.
Dengan harga yang lebih murah dibandingkan batik lokal, maka akan mudah menarik kalangan menengah ke bawah. Jenis tekstil seperti itu, kata dia, menggunakan konsep cetak mesin, bukan tulis atau cap. (J14-18) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad