SEMARANG-PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong emiten atau perusahaan go public asal Jateng karena potensinya sangat besar. Hingga pertengahan Maret, dari target 25 emiten yang hendak dicapai pada 2010 baru terealisasi empat.
Staf Edukasi Divisi Pemasaran PT BEI Taufiq Rochman mengungkapkan sampai akhir 2009 tercatat 403 perusahaan sebagai emiten dengan transaksi rata-rata Rp 4 triliun per hari. Potensi perusahaan go public di Jateng ini cukup besar, namun karena berbagai alasan pengusaha enggan mencatatkan diri di lantai bursa.
’’Banyak usaha yang berkembang di Jateng, mulai tekstil, rokok, jamu, sampai surat kabar yang sebenarnya berpotensi menjadi emiten. Tetapi mungkin perusahaan tidak butuh pendanaan atau takut kehilangan 100% kepemilikannya karena sebagian dijual kepada masyarakat,’’ jelas Taufiq dalam workshop wartawan ’Update Pasar Modal Indonesia tahun 2010’ di Gumaya Tower Hotel Semarang, kemarin.
Syaratnya mudah, antara lain aset minimal Rp 5 miliar saja sudah bisa go public dan saat dijual ke masyarakat cukup dibeli oleh 500 pemegang saham. Itu masuk kategori papan pengembangan. Agar bisa tercatat di papan utama aset Rp 100 miliar ke atas dan harus dibeli oleh 1.000 pemegang saham. ’’Di papan pengembangan rugi boleh, tetapi rugi yang punya prospek atau menurun sehingga tahun berikutnya menghasilkan laba. Kalau papan utama, harus memperoleh laba,’’ jelasnya.
Peningkatan jumlah emiten, lanjut dia, menyebabkan suplai penawaran pasar modal tidak hanya bertumpu pada 20 besar perusahaan yang menguasai 65% perdagangan, misalnya Telkom, Bumi Resources, Astra International, Adaro Energi, dan Perusahaan Gas Negara.(J14-27) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad