SEJARAH menunjukkan bahwa tiap perubahan zaman selalu dimotori oleh generasi muda yang berani menghadapi tantangan dan visioner.
Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Kemerdekaan RI 1945, Angkatan 1966, dan Gerakan Reformasi 1998 adalah deretan noktah sejarah pemuda yang gemilang bagi tegaknya peradaban. Bukan hanya semangat perlawanan kritis, lebih dari itu menyimpan sebuah spirit jiwa merdeka dan mampu menerobos zaman.
Dalam perjalanan bangsa, generasi pemuda menjadi aspek krusial dan memegang peranan penting.
Kini, merespons dinamika politik yang terjadi, banyak demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di berbagai kota di Indonesia. Tidak hanya adu fisik dan argumen, aksi demonstrasi kerap juga melebar dan menyebabkan luka sampai korban jiwa.
Demonstrasi yang merupakan modus operandi demokrasi, pada akhirnya merusak subtansi demokrasi itu sendiri, terutama privasi, kehormatan, dan reputasi manusia dengan nilai-nilai kemanusiaannya, seolah-olah tidak punya arti dan makna apa-apa bagi massa yang mendahulukan emosi ketimbang rasio, dalam gerakan demonstrasi.
Demokrasi diasosiasikan dengan aneka bentuk kekerasan massal, kekacauan publik, demonstrasi anarkistis, tindak kejahatan, ketiadaan hukum, matinya etika, runtuhnya tabu, dan ketidakpedulian sosial yang akut.
Demokrasi dijadikan raison d`etre bagi orang atau kelompok tertentu untuk memaksakan kehendak, melampiaskan hasrat, mengutamakan ego, merayakan ekspresi bebas, perilaku menyimpang, dan perbuatan amoral.
Demokrasi, ironisnya, justru menjadi “kendaraan” menuju “anarkisme” (Piliang, 2009). Demonstrasi berubah menjadi anarki massa, karena meniadakan jaminan hak asasi manusia.
Model demokrasi semacam ini dapat membuka luas akses anarki. Inilah demokrasi tangan besi (Ali, 2009) yang ditandai dengan sikap serta tindakan brutal dan radikal, sekaligus anarkis, di saat mereka memperjuangkan hak-hak demokrasi.
Itu ditandai terutama dengan sikap saling mencerca, mencaci, menuduh, melempar, memukul, merusak, dan bahkan menodai manusia hingga menyebabkan luka atau cacat seumur hidup, di samping meninggal dunia.
Perilaku massa semacam itu meniadakan norma kepatutan dan kemanusiaan yang seharusnya selalu eksis di setiap semangat demokrasi.
Gerakan mahasiswa tak lebih dari rutinitas bak ritual formalitas. Gerakan yang tampak di permukaan saja sesungguhnya tak akan mampu meraih intisari idealitas yang diusung. Ia terjebak dalam gemerlap kerumunan, bukan barisan yang mempersatukan.
Pada titik itulah kita bisa mengingat Soe Hok Gie, seorang pemuda keturunan Tionghoa yang hidup di saat Indonesia sedang mengalami perubahan besar.
Sosoknya pernah diangkat dalam film ’’Gie’’ (2005).
Sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, ia adalah ikon penting aktivitas politik angkatan ’66 yang mengecam kebijakan negara, persis seperti yang terjadi saat ini.
Soe Hok Gie (SHG) adalah wakil dari golongan menengah berpendidikan. Ia sosok cendekiawan yang selalu berteriak lantang atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan Semasa menjadi mahasiswa, ia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan idealis.
Situasi politik saat itu (setelah G-30 S/PKI) membuat mahasiswa terbagi atas berbagai kelompok yang saling bentrok, negara dalam keadaan chaos. Demonstrasi dan kerusuhan, muncul di mana-mana.
SHG adalah mahasiswa yang turut berdemonstrasi menuntut pengunduran diri Soekarno, tetapi merasa dikhianati teman-temannya yang justru ikut bermain di panggung politik nasional yang dianggapnya penuh penyimpangan, kesewenang-wenangan, dan korupsi. Namun, ia tetap kritis dan menyampaikan langsung maupun lewat tulisannya di media massa.
Sebagai kelas menengah intelektual, seperti kelas menengah Indonesia umumnya, relatif steril dan berjarak dengan realitas sosial, SHG lebih menonjol pada segi intelektualitas dan emosi personalnya sebagai vokalis paling kritis terhadap kekuasaan.
SHG mewakili semangat borjuis intelektual lewat berbagai buku yang ia baca: Biografi Soekarno, Mahatma Gandhi, Orang Asing (Albert Camus), atau Senja di Jakarta (Mochtar Lubis). Ia merepresentasikan pengetahuan yang dimiliki dan pengetahuan adalah kekuasaan.
Mengontrol Alam
Ia juga mempunyai pemikiran romantik untuk bersahabat dengan alam. Kegiatan naik gunung merupakan impuls untuk mengontrol alam dengan ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Ini merupakan jalan menuju modernisasi, industrialisasi, dan konsentrasi.
Demokrasi, persamaan, dan liberalisme adalah ide-ide modernitas yang bukan secara kebetulan dibawa SHG. Di sinilah, apa yang disebut pengetahuan sebagai perspektif muncul ke permukaan.
Dengannya, SHG menjadi sosok manusia baru yang pejuang, cerdas, dan berani, pahlawan yang membela orang yang lemah, dalam kerangka tujuan masyarakat yang jujur dan adil. Sosok ini penting bagi masyarakat, terutama generasi muda.
SHG adalah sosok anak muda yang berani mengambil sikap. SHG adalah saksi penting bagi sejarah yang sampai sekarang masih buram dan seharusnya generasi muda melihat betapa pentingnya memiliki sikap dan kejujuran seperti SHG.
Saat hati nurani tidak bicara lagi pada kita, sosok Gie ibarat lonceng yang mengingatkan kita saat terjadi sesuatu yang salah mengenai elemen-elemen kemanusiaan yang terlupakan.
Berkaca pada apa yang telah dilakukan SHG, gerakan kaum muda harus bisa menyadari, introspeksi, dan merevitalisasi kondisi mereka sendiri yang sebenarnya “impoten”, sehingga menjadi gerakan yang tidak lagi netral memperjuangkan hak kebenaran dan kemanusiaan.
Banyak kaum muda yang semula gigih berteriak lantang soal korupsi, ketika masuk ke lingkaran kekuasaan, hati nurani mereka dijual murah dan tanpa malu-malu lagi mereka sering mucul di televisi seolah sebagai bodyguard pemerintah yang sangat loyal.
Gerakan kaum muda perlu diikuti pemikiran bersih serta strategis dan karena itu mereka juga harus rajin berdiskusi serta membahas berbagai isu aktual maupun mengkaji hasil-hasil studi ilmiah guna mendasari kritik pemikiran, dan gerakan mereka tujuannya, agar gerakan mereka terarah dan tidak asal bunyi.
Kita butuh entitas generasi muda yang merapatkan integritas bangsa. Elemen pergerakan pemuda, yang terdiri atas mahasiswa, aktivis, taruna, dan seterusnya dalam pelbagai dedikasi maupun institusi di berbagai lini, mesti dipersatukan dalam common platform membangun kembali ke-Indonesia-an kita.
Maka, diperlukan perubahan mindset generasi muda untuk bersifat nasionalis, pluralis, dan strategis dalam pelbagai aspek kehidupan. Setiap generasi muda ini harus menyadari betul posisinya sebagai bagian dari warga negara yang punya kesadaran hakiki dan kematangan berpikir membangun bangsa.
Generasi muda perlu membangun barisan yang cinta khazanah keilmuan, yakni generasi yang senantiasa belajar segala ilmu dengan memuliakan pikiran sebagai manusia mulia. (37)
— Purnawan Andra, mahasiswa Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad