panel header
NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
20 Maret 2010
Menggugat Unjuk Otot
  • Oleh Hendra Sugiantoro
MAHASISWA boleh dipandang sebagai kelompok intelektual terdidik. Perjuangan mahasiswa menumbangkan tirani kekuasaan dalam penggalan kisah sejarah menjadi potret yang mengukuhkan kebanggaan terhadap mereka. Ketika suara kebenaran terbungkam, mahasiswa tak pernah letih menyuarakan kebenaran.

Pandangan penuh kebanggaan terhadap mahasiswa tampaknya perlu diluruskan. Sesungguhnya wajah mereka tak jauh berbeda dengan wajah kelompok masyarakat lainnya.

Tidak seluruh mahasiswa menghayati posisinya sebagai kelompok masyarakat terdidik. Ada yang belum benar-benar stabil secara intelektual dan emosional. Proses pencarian jati diri dan peneguhan identitas masih dilalui mahasiswa sebagai bagian dari manusia muda.

Perilaku anarkis yang dipertontonkan mahasiswa dalam unjuk rasa, misalnya, bisa menjadi refleksi. Jika mau jujur, tindak kekerasan yang mewarnai unjuk rasa mahasiswa bukanlah hal yang mengejutkan.

Sebab, ada mahasiswa yang memang belum stabil secara psikologis. Luapan emosi tak terkendali kerap menyu-guhkan drama mahasiswa yang miskin nalar.

Adanya unjuk rasa yang berbarengan dengan unjuk otot jelas menimbulkan kemirisan. Fenomena ini tentu bukan kesalahan unjuk rasa, tapi pelaku demonstrasi.

Mahasiswa hanya dituntut melakukan perenungan kritis terhadap unjuk rasa yang menjurus pada tindakan anarkis. Mungkin luapan emosi yang tidak terkontrol menyebabkan mereka sulit mengendalikan diri.

Memang benar unjuk rasa merupakan bagian dari hak kebebasan menyampaikan aspirasi yang dijamin konstitusi. Namun, unjuk rasa yang anarkis adalah kebebasan tak bertanggung jawab.

Mengubah paradigma gerakan mahasiswa dari unjuk rasa menuju unjuk rasio yang dipaparkan Bramma Aji Putra (27/2), memang menarik. Menyampaikan pendapat dan aspirasi lewat tulisan diharapkan mulai dilakukan mahasiswa. Mereka bisa menggelar diskusi dengan mempertemukan pemerintah, lembaga masyarakat, aktivis, dan media massa.

Menurut saya, unjuk rasa bukan berarti tidak ada unjuk rasio. Dalam unjuk rasa, mahasiswa pun tetap berusaha melakukan dialog dengan pihak terkait untuk duduk satu meja. Yang dipermasalahkan adalah unjuk rasa yang disertai kekerasan.

Unjuk rasa masih diperlukan untuk menekan kekuasaan yang lalai terhadap amanat. Dalam kondisi berhadapan dengan kekuasaan yang tiran dan otoriter, kekuatan massa tidak bisa disepelekan. Hanya saja, sarana yang digunakan tidak melulu turun ke jalan.

Menyampaikan aspirasi dan mengingatkan kekuasaan lewat tulisan bisa pula dilakukan. Menggelar dialog dengan kekuasaan perlu menjadi alternatif. Efektivitas antara turun ke jalan dan tulisan sifatnya relatif. Tantangannya adalah kejelian dan kemampuan mahasiswa untuk menentukan dan menjalankan sarana dalam upaya penyampaian aspirasi.

Mahasiswa masih tetap dibutuhkan untuk mengawal perbaikan negeri ini. Harapan itu juga menghendaki mahasiswa kuasa memperbaiki diri. Jika mahasiswa masih saja menampakkan tingkah laku kurang mulia, masyarakat tak ada salahnya menggugat mahasiswa. (37)

  — Hendra Sugiantoro, pegiat Transform Institute pada Universitas Negeri Yogyakarta
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER