WONOSOBO - Hidup di negeri karut-marut menjadi keprihatinan tersendiri. Pemimpin yang amanah masih menjadi idaman semua orang. Demokrasi juga masih compang-camping menemukan bentuknya.
Wahyu Mahkuta Rama yang artinya wahyu yang diberikan kepada Arjuna mengisyaratkan bahwa sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa akan kehadiran seorang pemimpin. Pemimpin juga harus bisa mengayomi rakyatnya sebagaimana layaknya seorang Arjuna dalam cerita pewayangan.
Perubahan pada masyarakat menjadi salah satu tugas pemimpin yang baik. Perubahan juga tidak hanya pada perubahan fisik namun harus bisa mengubah seluruh aspek kehidupan, termasuk moral rakyat ke arah yang lebih baik.
Lakon Wahyu Mahkuta Rama dibawakan dalang asal Tegal Ki Enthus di Alun-alun Wonosobo, Sabtu malam (13/3). Ia banyak sekali menyinggung kebobrokan yang terjadi di negeri Indonesia. Mulai dari ulah para anggota Dewan di panggung politik hingga masih merajelalanya mafia hukum di semua instansi.“Beri contoh ora nyontoni,” kata dalang itu.
Buka Tabir
Dengan cara penyampaian yang khas, ia membuka tabir bahwa tidak semua orang bisa menjadi pemimpin. Dikatakannya, selama ini kekuasaan dimaknai sebagai bukti bentuk kedigdayaan di hadapan orang. Rakyat hanya dijadikan objek yang bisa dipermainkan seenaknya. “Harus ngayomi. Mboyong Wahyu Mahkuta Rama adalah ajaran hasta brata,” paparnya.
Ketika itu, Arjuna rela mencari wahyu dan petunjuk demi untuk rakyatnya meski harus bertapa di Gunung Kuta Runggu atau Solo Giri yang jauh dari keramaian. Juga digambarkan bahwa kejahatan sampai kapan pun tidak dapat mengalahkan kebaikan. “Sing becik bakal nemu dalan,” ujarnya.
Meski dalam meraih kebaikan itu harus dihadapkan dalam berbagai ujian. Dengan demikian, Wahyu Mahkuta Rama akan hadir pada diri orang yang sukses. Pemimpin yang ideal itu mampu menyejahterakan rakyat dalam waktu yang cepat dan tepat.
Disebutkan, untuk meraih sukses diperlukan perjuangan sebagaimana Arjuna dalam mencari wahyu. Sesekali Ki Enthus membumbui dengan guyon-guyon politik seputar Pilkada Wonosobo yang mengundang gelak tawa para penonton.
Di tengah-tengah pentas, diselingi nyanyian biduan asal Wonosobo yang sekarang sudah menjadi artis Ibu Kota, Tumpuk.
Seperti biasa, begitu malam sudah larut, Enthus mengubah format dari wayang pakem ke pementasan wayang golek. Hanoman, si kera putih menjadi daya tarik para pengunjung yang semula sudah berniat pulang. (Edy Purnomo-24) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad