panel header
MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
13 Maret 2010
Debat: Penggabungan UN - SNMPTN
Seberapa Pentingkah UN?
  • Yudha A Dikjaya
PERDEBATAN panjang akhir-akhir ini mengenai efektivitas ujian nasional (UN) merupakan suatu keniscayaan. Sebagian besar orang tua, murid, dan guru bersikap menolak, karena hal itu secara langsung akan berakibat pada adanya pertaruhan gengsi dan harga diri. Kegagalan di UN akan mengakibatkan tamparan keras bagi mereka.

Terlebih bagi para murid SMA. Dari segi kepraktisan, adanya UN sangat merepotkan, karena mereka akan dihadapkan lagi pada ujian seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Dua ujian tersebut tentu membutuhkan pengorbanan yang teramat besar.

Padahal, jika ditelaah keduanya sangat mungkin disatukan. SNMPTN dapat disatukan dengan UN, karena soal-soal yang diberikan relatif memiliki tingkat kesulitan yang sama.

Adalah hal yang tragis saat beberapa waktu lalu banyak diberitakan ada calon mahasiswa yang lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri, namun belakangan diketahui dia tidak lulus dalam ujian nasional. Jika standar ganda tersebut tetap terjadi di tahun-tahun mendatang, maka hal itu sungguh mencederai akal sehat kita.

Hal yang kemudian paling mungkin terjadi adalah munculnya kecurangan dalam UN. UN kelak hanya akan menjadi ujian formalitas agar anak didik bisa melanjutkan ke ujian sebenarnya, yaitu SNMPTN.

Fenomena tersebut sudah menjadi rahasia umum. Setiap tahun berita kecurangan selalu terdengar saat diselenggarakan ujian nasional. Maka, harus segera dievaluasi, apakan UN benar-benar masih memiliki fungsi bagi peserta didik.

Apakah tidak lebih baik dan ekonomis jika kedua ujian tersebut disatukan saja? Mengenai permasalahan yang mungkin terjadi di lapangan, tentu para pakar pendidikan memiliki solusi jitu tanpa harus memeras tenaga dan pikiran peserta didik.

Adalah suatu bentuk kekerasan saat anak didik dihadapkan pada keadaan yang memaksa dirinya berada pada kondisi stres akibat dua ujian tersebut. Kembali pada pertanyaan di atas,

jika tujuan kedua ujian tersebut dapat dicapai dalam satu ujian saja, mengapa pemerintah tetap menyelenggarakan dua kali ujian. Apakah hal itu semata-mata karena ingin mencerdaskan bangsa, ataukah ada ambisi  tertentu yang kita tidak tahu? (37) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER