UJIAN akhir nasional, tiga kata inilah yang saat ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi pelajar yang duduk di sekolah menengah pertama atau menengah atas. Saat mulai menduduki kelas akhir mereka langsung mendapatkan hantu yang berupa standar nilai kelulusan yang harus mereka capai.
Tentu hal ini memiliki dampak positif dan negatif bagi siswa, selain itu banyak sekali fenomena yang terjadi setelah pemerintah menetapkan kebijakan ini.
Sekolah adalah batu loncatan dalam memperoleh masa depan. Kini ancaman versi lain pun tengah bergejolak dengan standar nilai kelulusan, tentu menjadi hal yang akan menentukan masa depan seseorang.
Berbagai polemik silih berganti menyangkut ‘’hantu’’ yang bernama standar nilai kelulusan ini dimulai dengan banyaknya peristiwa siswa yang melakukan bunuh diri karena tidak lulus, serta depresi yang banyak melanda. Singkat kata standar nilai kelulusan ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.
Yang menjadi pertanyaan besar apakah standar nilai kelulusan ini menjadi sebuah faktor objektivitas dalam menentukan kualitas pendidikan Indonesia? Tentu jika jawabannya tidak, maka hal ini sangat amat menjadi ironi dalam dunia pendidikan yang menurut saya sangat semrawut.
Ada hal lucu yang menunjukkan bagaimana kontrasnya sistem pendidikan saat ini dengan metode multiple choice yang saat ini masih diterapkan di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Banyak siswa yang terbilang memiliki prestasi dan cukup memiliki potensi di kelas I dan kelas II, tetapi hancur oleh hanya ujian nasional yang hanya berlangsung tiga hari.
Lalu di mana tingkat objektivitas dalam sistem pendidikan saat ini? Apakah sistem pendidikan saat ini lebih mirip ke judi yang selalu mengandalkan peruntungan?
Begitupun dengan perguruan tinggi yang tak luput dari kecacatan yang lebih bersifat mendasar, banyak terjadi fenomena yang amat mencoreng dunia pengetahuan, apalagi pengetahuan sosial yang bersifat lebih dinamis dari disiplin ilmu lainnya.
Hal ini disebabkan oleh perilaku fungsionaris dalam perkuliahan dalam hal ini dosen yang selalu mengganggap mahasiswa sebagai objek yang harus menerima apa yang diberikan dosen. (37) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad