PEREMPUAN Indonesia memiliki kedudukan sangat penting sepanjang perjalanan sejarah. Kita bisa melihat hasil perjuangan Kartini, gagasannya sebagai pendidik tentang emansipasi kaum perempuan di Indonesia senantiasa menjadi spirit kaum perempuan untuk meningkatkan derajat kehidupan.
Kartini telah meletakkan cita-cita kaum perempuan sebagai sosok yang tidak saja piawai dalam peran-peran domestik, namun juga peran-peran secara sosial. Kartini telah berjuang menyusun ulang struktur budaya yang sebelumnya hanya menempatkan perempuan sebagai kanca wingking kaum priya.
Di samping itu, kita juga bisa melihat kiprah berbagai perkumpulan perempuan di atas pentas sejarah pergerakan nasional. Berbagai perhimpunan perempuan pada masa itu berhasil meletakkan sendi dasar perempuan Indonesia sebagai “Ibu Bangsa”. Kini hasil perjuangan tersebut telah menjadi kekuatan moral bagi kiprah perempuan dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Perempuan sebagai bagian terbesar dari warga negara di Indonesia juga memiliki potensi besar dalam proses pembangunan, walau perempuan di Indonesia terkadang masih digambarkan sebagai manusia yang harus hidup dalam situasi dilematis. Di satu sisi, perempuan dituntut berperan di semua sektor kehidupan, namun di lain sisi muncul tuntutan agar tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Tuntutan demikian membuat perempuan memikul beban yang berat.
Kodrat ialah peran perempuan yang dibentuk oleh pandangan sosial-budaya masyarakat Indonesia. Kodrat dibiaskan maknanya menjadi suatu yang menempel pada perempuan dan menjadi citra diri perempuan. Citra tersebut akhirnya oleh pe-merintah dilembagakan dalam program pembangunan. Antara lain disebutkan ada lima tugas utama perempuan (Panca Tugas Perempuan), yakni: (1) sebagai pendamping suami, (2) sebagai pendidik generasi muda, (3) sebagai pengatur rumah tangga, (4) sebagai tenaga kerja, dan (5) sebagai anggota organisasi masyarakat.
Dalam kehidupan nyata, ternyata kodrat bukan sekadar nilai yang mereka hayati. Peran ganda perempuan bukanlah hal yang baru. Sejak kecil mereka terdidik untuk mampu bertahan hidup dan menghidupi keluarganya dengan bekerja.
Membina Jaringan
Dalam hal ini, saya berpendapat bahwa peran serta kaum perempuan sebagai pembawa perubahan melalui pendidikan, kini berada dalam saat yang tepat. Dengan pendidikan kita akan mengalami perbaikan dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Setidaknya kita bisa menyebarkan ide-ide dan menyemangati masyarakat untuk saling meningkatkan rasa kesetiakawanan dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah dalam kehidupan
Untuk mencapai proses sosial budaya itulah, kaum perempuan harus memiliki kesepakatan moral, keteguhan sikap, dan membina jaringan yang didukung teknologi, seperti internet, facebook, atau twitter, dan saling membina komunikasi tentang berbagai masalah yang diminati secara tetap dan berkesinambungan.
Sudah terbukti bahwa perempuan bisa menjadi pendorong perubahan dalam mencapai kesetaraan gender, bertebaran dalam perjalanan pergerakan perempuan Indonesia. RA Kartini, Dewi Sartika, atau Cut Nyak Dien adalah beberapa nama yang kerap disebut sebagai orang-orang yang memberi inspirasi bahwa perempuan berhak dan dapat melakukan seperti yang dilakukan laki-laki. Di luar itu, ada banyak lagi pribadi dan lembaga masyarakat, yang juga tampil menjadi pendorong perubahan.
Kenyataan membuktikan bahwa perempuan berhasil berperan lebih aktif di masyarakat sebagai pendorong perubahan, saat mengampanyekan kesetiakawanan dalam peristiwa koin untuk Prita, dan berhasil mengubah ketidakadilan yang terjadi pada Prita Muliasari. Membangun jejaring juga penting saat ini, siapa pun harus membangun jejaring sosial antara kita, sesama perempuan, juga dengan anggota masyarakat lainnya untuk bekerja ke arah perubahan.
Karena itu, marilah kita yakini bahwa siapa saja dapat tampil untuk ikut menjadi pendorong perubahan asal dia peduli dan memiliki komitmen. Dengan membina jejaring sosial melalui dunia maya, setidaknya bisa menjadi perekat dan penguat agar tujuan kita untuk mengupayakan kehidupan yang lebih ideal dapat tercapai.
Dan, bila mencatat apa yang telah lalu, meskipun banyak hal belum memuaskan dan harus diperjuangkan, telah ada perubahan yang dicapai oleh kaum perempuan. (37)
- Hj Tri Rustanti Noersasongko SE MM, ketua Yayasan Dian Nuswantoro
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad