JEPARA - Kondisi pantai Desa Tanggul Telare Kecamatan Kedung kini terancam gundul dan tenggelam karena terjangan abrasi.
Beberapa langkah penyelamatan yang dilakukan untuk mengamankan pantai itu belum membuahkan hasil.
Bila tidak ditangani secara efektif maka dalam 10 tahun ke depan abrasi itu akan terus menggerus daratan. Dan, bisa makin dekat dengan jalan yang menghubungkan pusat kota dengan Kecamatan Kedung.
Imron (50), warga Desa Tanggul Telare, Selasa (9/3) mengemukakan, abrasi sudah menjadi kekhawatiran masyarakat, terutama yang memiliki lahan pertambakan. Sebab dalam hitungan dua tahun, lahan yang tergerus mencapai 10 meter.
''Beton penahan gelombang itu dahulu ada di pinggir pantai. Akan tetapi sekarang lihat, sudah tenggelam,'' ujar dia.
Jarak terdekat beton itu dengan garis pantai saat ini sudah 10 meter, sedangkan terjauh 30 meter. Beton itu dibangun pada 2007 untuk menahan gelombang dan mengarahkan arah pasir laut agar bisa mengumpul di pantai. Kondisi itu menjadi pertanda, dalam dua tahun lahan yang tergerus di titik itu paling tidak 10 meter.
Imron menekankan, kondisi itu sebenarnya belum separah 2008. Abrasi pada musim barat 2009 tergolong paling ringan. ''Musim barat tahun ini ombak besarnya tak seberapa. Jika ombaknya seperti tahun-tahun sebelumnya, abrasinya bisa lebih parah,'' ucapnya.
Gundul
Dua tahun lalu, antara pantai Desa Semat, Kecamatan Tahunan dan pantai Desa Tanggul Telare dipisahkan oleh rumpun pohon bakau yang rimbun. Namun kenyataan yang terlihat, kemarin, rangkaian rumpun bakau itu sudah putus dan membuat pantai terlihat gundul.
Sisa-sisa bakau yang masih ada berantakan karena sebagian besar akarnya sudah tercerabut. Jarak antara garis pantai terkena dampak abrasi ke jalan umum Kecamatan Kedung itu hanya sekitar 100 meter.
Imron mengungkapkan, hal itu seperti tidak terasa jika dihitung per tahun, namun jika dalam hitungan puluhan tahun jelas terlihat. Warga Desa Tanggul Telare dan Bulak baru misalnya sudah bedol desa pada 1970-an dalam jarak ratusan meter karena abrasi. Kondisi abrasi terakhir ini juga disebut sebagai bagian dari proses panjang abrasi masa lalu yang terus menelan daratan.
Pada 2007, melalui dana APBN Rp 500 juta, Pemkab membangun beton penahan gelombang sepanjang dua kilometer di kawasan itu dengan panjang menjorok ke laut sejauh 20 meter. Namun, beton itu kini sama sekali tidak berfungsi apa-apa.
''Tinggi beton kalah jauh dengan ombak yang datang ke pantai. Jadi, fungsinya kurang maksimal,'' ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jepara Ir Achid Setiawan, kemarin.
Dia menandaskan, kawasan itu baru saja dikunjungi Komisi D DPRD soal kemungkinan usulan mengajukan dana ke Pemerintah Pusat. ''Sangat mahal biaya untuk membendung abrasi itu,'' tegas dia. (H15-69)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad