TEGAL - Penyidik dari kesatuan gabungan Polresresta Tegal kini bekerja ekstrakeras untuk mengumpulkan bukti dan keterangan sejumlah saksi, terkait kasus dugaan kekerasan di sebuah SMK di Kota Tegal.
Antara lain, dapat dilihat dari dua personel Sat Intelkam didampingi Kapolsekta Tegal Timur AKP Anggiat Siringo Ringo serta satu personel dari Unit Reskrim, saat berkunjung ke SMK ''SUPM'' Ma'arif.
''Saya hanya bersilaturahmi ke sekolah ini, sekaligus berdialog soal beredarnya video kekerasan seperti diberitakan media cetak dan elektronik terjadi di sebuah SMK,'' ujar Kapolsekta Tegal Timur, Selasa (9/3).
Hingga kini, kata dia, dirinya belum bisa memastikan lokasi dugaan tindak kekerasan yang dilakukan taruna senior terhadap para yuniornya. Karena harus lebih cermat lagi dalam melihat dan mempelajari video berisi tindak kekerasan itu, yang kini sudah banyak beredar di kalangan pelajar dan warga.
Kapolresta Tegal AKBP Drs Ahmad Husni didampingi Kasat Reskrim AKP Willer Napitupulu SE mengatakan, untuk sementara pengusutan terhadap kasus tersebut masih sebatas mengumpulkan keterangan sejumlah saksi.
''Penyidik di lapangan masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi. Maksimal dari saksi yang tahu seragam taruna atau siswa seperti yang terlihat di video. Kemudian merembet ke saksi korban. Kalau kami bisa mendapatkan saksi seperti ini, tentu akan mempermudah proses penyidikan,'' ujar dia.
Merasa Kaget
Sementara itu, Ketua Yayasan Ma'arif KH Abu Chaer Annur dan Kepsek SMK ''SUPM'' Ma'arif Fahman Hidayat SPd saat berdialog dengan Kapolsekta Tegal Timur dan dua personel Sat Intelkam, manyatakan merasa kaget atas beredarnya video kekerasan yang terjadi di sebuah SMK.
Terhadap kasus itu, keduanya juga merasa prihatin. Di sisi lain, sekolahnya juga sangat hati-hati dalam menindaklanjuti kasus tersebut. Salah satunya belum mengkonfirmasi langsung ke siswa Kelas X, XI dan XII.
Karena bagi Kelas XII, saat sekarang tengah mengadapi persiapan menjelang ujian nasional (UN) yang rencana berlangsung, Senin (22/3) hingga Jumat (26/3).
''Saya memang merasa kaget dan baru tahu setelah membaca berita di koran dan melihat di televisi soal beredarnya video ini. Karena sekarang siswa Kelas XII tengah persiapan mengadapi UN, agar tidak mengganggu mental mereka, sekolah dan yayasan belum mengkonfirmasikan hal ini,'' ujar Fahman Hidayat SPd.
Ketua yayasan sekolah itu mengatakan, tahun 2009 memang ada tiga siswa yang keluar dari sekolah. Namun alasan keluar dari sekolah itu bukan akibat tindak kekerasan, melainkan karena faktor lain.(D12-15) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad