MENCUATNYA wacana terkait penggabungan UN-SMPTN banyak menuai pro- kontra dari berbagai pihak.
Substansi pro-kontra ini terletak pada perbedaan tujuan dari UN dan SMPTN. Sementara konsep yang masih wacana ini dilandasi pandangan bahwa pendidikan harus terintegrasi dengan baik.
Artinya, ada kesinambungan antara pendidikan di SMA/MA dengan jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini dimaksudkan oleh Mendiknas agar tercipta pendidikan yang utuh (SM, 23 Oktober 2009 ).
Penggabungan UN-SMPTN bukanlah hal yang mudah. Depdiknas sebagai lembaga yang mengusung setiap kebijakan baru sebaiknya meninjau ulang kembali dengan pertimbangan yang matang.
Di samping itu, ketika dilihat dari tujuan, tentu berbeda satu sama lain. UN masih dipandang ideal sebagai standar evaluasi akhir pendidikan, sedangkan SMPTN merupakan ujian memasuki jenjang perguruan tinggi yang disesuaikan dengan bakat dan minat masing-masing peserta didik.
Untuk dapat menggabungkan UN-SMPTN, hal pertama yang mesti dilakukan adalah membenahi sistem dan metode UN terlebih dahulu.
Hal ini dilakukan agar tidak muncul debat yang berkelanjutan.
Pembenahan ini dilihat dari sudut pandang yang beragam mulai dari faktor geografis hingga kondisi sekolah (fasilitas dan SDM pendidik).
Di samping itu, perlu penggunaan klasifikasi pelaksanaan UN.
Dengan cara ini maka kredibilitas dan kualitas UN dapat ditingkatkan.
Sementara melihat kondisi di lapangan, begitu kompleksnya permasalahan yang melekat dalam konsep UN, merupakan kesulitan dalam menerapkan pengintegrasian UN-SMPTN.
Perlu pertimbangan yang matang, strategi, dan jelas terkait konsep penggabungan UN dan SMPTN, sehingga pelaksanaannya bukan hal utopis. (37) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad