panel header
BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
06 Maret 2010
Karut-marut Etika Akademis
WEBOMETRICS pertengahan Februari 2010 menurunkan hasil pemeringkatan universitas di dunia. Hasilnya, ada 17 perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam 100 besar.

Beberapa universitas tersebut adalah Universitas Kristen Petra Surabaya (peringkat 19), Universitas Gunadarma Jakarta (24), Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (31), Universitas Islam Yogyakarta (74), dan Universitas Negeri Yogyakarta (100).

Adapun peringkat 10 besar di Asia Tenggara adalah Universitas Gadjah Mada (8), Institut Teknologi Bandung (10), dan Universitas Indonesia (17).

Hasil itu setidaknya memberikan catatan tentang gambaran perkembangan dunia pendidikan terakhir. Dari 10 universitas yang diranking dapat dikatakan bahwa sejumlah universitas di Jateng cenderung dikalahkan oleh universitas ’’baru’’.

Selain kita bisa saja mempertanyakan metode dan tolok ukur, hal yang pasti bisa kita tanyakan, mengapa hal itu terjadi? Ada apa dengan dunia pendidikan di Jawa Tengah?

Penjualan Skripsi

Kondisi pendidikan tinggi di Jateng sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari kondisi umum yang terjadi di Indonesia. Di Jatim beberapa waktu lalu muncul kasus peloakan skripsi-skripsi yang sudah tua. Kendati pelakunya adalah seorang pesuruh fakultas, tentulah hal itu sangat terkait dengan orang-orang yang menyuruh.

Logikanya, disuruh-menyuruh tentulah dalam konteks pekerjaan yang terbingkai sebagai sebuah sistem. Artinya, diakui atau tidak, kasus itu merupakan cerminan dari sebuah sistem pendidikan yang ditunjukkan melalui kebijakan-kebijakan fakultas.

Dalam banyak hal, kasus itu merupakan hal biasa terjadi di Jawa Tengah. Hal itu terbukti, betapa mudah kita menemukan jilidan skripsi di pasar buku loakan. Berdasarkan observasi di Kompleks Pasar Johar dan Pasar Yaik Semarang selama setahun terakhir, skripsi maupun tugas akhir menjadi barang dagangan yang tidak istimewa. Mereka menjual Rp 15.000 - Rp 30.000.

Bila diteliti lebih jauh, skripsi itu merupakan naskah asli, karena tanda tangan dosen pembimbing dan pihak otoritas adalah tinta bolpoin, bukan hasil foto kopi. Banyak faktor mengapa hasil penelitian itu bisa sampai di tangan penjual buku bekas. Ketika jumlahnya begitu banyak, tentulah ada ’’keputusan massal’’ terkait naskah tersebut.

Kenyataan itu membuktikan betapa karya-karya ilmiah yang dijadikan sebagai titik tolak kemajuan ilmu pengetahuan tidak memperoleh tempat yang baik. Bahkan, oleh para pelaku pendidikan sendiri di perguruan tinggi.

Itu hanyalah sebagian kecil dari perilaku akademik yang terjadi sekarang ini. Sebagian lain, runyamnya perilaku akademik. Pendeknya adalah faktor dari para pelaku akademik di perguruan tinggi.

Penjiplakan     

Di dalam teori sosiologi ilmu, Jean Francois Lyotard (1995) menghubungkan universitas dan masyarakat. Universitas adalah produsen ilmu pengetahuan, sedangkan masyarakat adalah konsumen.

Masyarakat menuntut produk dari universitas adalah produk yang baik, bisa dipraktikkan, dan berguna. Pada kenyataannya, para pelaku pendidikan terkadang tidak bisa menyediakan produk ilmu pengetahuan sebagaimana permintaan pasar.  

Tulisan Ari Kristianawati berjudul ’’Plagiarisme, Wabah Endemis Kampus’’ (Suara Merdeka, 1/2/10), melupakan peran strategis pengembangan keilmuan.

Dia membuat contoh tentang Harian The Jakarta Post  pada awal Februari yang memuat sebuah artikel jiplakan dan berbuntut pada pengunduran diri pelaku dari perguruan tinggi tempat dia mengajar.

Tulisan yang dipersoalkan dalam harian itu bukanlah sekadar masalah artikel di halaman tersebut. Ini terkait dengan subjeknya  yang tak lain adalah seorang guru besar yang masih aktif di perguruan tinggi.

Sebagai guru besar aktif, selama ini dia melaksanakan Tridrama Perguruan Tinggi, yakni pengajaran, penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat. Fungsinya menjadi sangat penting, karena terkait dengan aktivitas pengembangan keilmuan pada masa sekarang.

Aktivitas itu sangat menentukan di masa depan, karena masa kini mahasiswa yang menjadi anak bimbing, peserta kuliah, atau anggota penelitiannya, akan menjadi peneliti pada lima hingga sepuluh tahun yang akan datang.

Pertanyaannya, bagaimana jika etika akademis tidak ditegakkan dalam Tridarma itu? Bagaimana rupa dunia pendidikan di masa depan tanpa pengawalan terhadap perilaku-perilaku yang melanggar norma dan tata aturan?

Berdasarkan kasus tersebut, dapat dikatakan bahwa buruknya kualitas pendidikan kita tidak bisa dilepaskan dari peran para pelaku di pendidikan tinggi. Jadi, pertanyaan mengapa pendidikan di Jateng tidak mendapatkan tempat dalam percaturan internasional, haruslah dikembalikan pada para pelakunya.

Sebagai penghasil ilmu pengetahuan, civitas academica harus mawas diri. Celakanya, pelbagai bentuk program mawas diri (mulai dari EPSBED, akreditasi, program akumulasi angka kedit, dan lain-lain), tampak sebagai formalitas yang kurang mendapatkan nilai, kecuali hanya untuk meraih uang semata. (37)

— Siti Komariyah SS, pemerhati pendidikan  
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER