BEBERAPA tahun lalu pendidikan seakan dijadikan ajang percobaan oleh Depdiknas. Sekarang ada lagi, yaitu tentang rencana penggabungan SNMPTN dan UN. Sebelum Depdiknas memutuskan apakah UN digabung dengan SNMPTN atau tidak, sebaiknya Depdiknas menelaah dulu seperti apa UN dan SNMPTN itu.
Pelaksanaan UN banyak kecurangan. Sungguh miris memang pendidikan sekarang ini. Seharusnya para guru dan kepala sekolah mengajarkan arti penting menuntut ilmu. Tapi, yang terjadi sekarang, guru sibuk mencarikan jalan pintas untuk kelulusan anak didik mereka. Walaupun tidak semuanya, banyak dari mereka yang melakukan hal tersebut. Ini karena tingginya standar kelulusan. Jika dilihat dari segi positif, memang standar kelulusan perlu dinaikkan agar siswa semakin giat belajar untuk mencapai kelulusan. Tapi, jika dilihat dari segi negatif, UN malah menjadi momok bagi sebagian siswa.
SNMPTN untuk menyeleksi lulusan SMA atau sederajat guna menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri, tentu mempunyai standar yang berbeda-beda sesuai dengan kualitas PTN. Biasanya materi yang digunakan adalah yang disediakan untuk pelajar di atas SMA. Dalam tes tersebut, bukan hanya materi SMA yang dulu pernah mereka pelajari tapi juga psikotes untuk mengetahui seberapa tingkat kedewasaan mereka dan kesiapan untuk melanjutkan studi pada tingkat selanjutnya.
Dapat disimpulkan bahwa keduanya sangat berbeda. UN adalah sebuah tingakatan yang harus ditempuh oleh pelajar yang menunjukkan bahwa mereka mampu menyelesaikan jenjang SMA. Sangat berbeda dengan SNMPTN, yang merupakan seleksi para pelajar untuk melanjutkan studi selanjutnya ke PTN.
Perbedaan ini jika digabung akan sangat tidak cocok, karena masing-masing dari kedua hal tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. Jika benar-benar digabung, kemungkinan ada banyak kecurangan lain dalam tes ini. Maka, sebaiknya Depdiknas melakukan revisi diadakannya UN. Apakah UN memang benar diperlukan atau hanya akan membawa dampak negatif yang lebih banyak daripada dampak positifnya. Baru setelah itu mencari kebijakan tentang pelaksanaan SNMPTN. Sebab, yang kerap menjadi momok bagi siswa adalah UN. Setelah UN dapat berjalan lancar, mungkin mereka akan lebih mudah menghadapi SNMPTN. Lagi pula, tidak semua siswa yang lulus SMA ingin melanjutkan ke PTN. Mereka mempunyai keinginan yang berbeda-beda. (37) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad