KALAU kita cermati selepas Reformasi Mei 1998, gerakan turun langsung ke jalan yang diperagakan sejumlah elemen bangsa, terutama kalangan mahasiswa, mulai kehilangan ruh utamanya.
Perbaikan nasib rakyat seolah tak pernah dihiraukan, kalah banter dengan pikuk-teriakan parlemen jalanan melawan aparat yang berjaga. Pemerintahan hari ini mulai memandang miring para peserta aksi demonstrasi yang sejatinya memiliki agenda suci tersebut.
Bahkan, beberapa kalangan menyinyalir, gerakan demonstrasi marak oleh aksi penunggangan. Unjuk rasa di jalan kerap membuat macet. Satu pertanyaan esensial dari fenomena di atas, adakah sebuah format, konsep, atau aksi lain yang lebih elegan dan mampu menciptakan perubahan? Tentu saja ada. Yakni, dengan menggairahkan kegiatan intelektual: menulis.
Apalagi jika kita sadari, agaknya Pemerintahan SBY cukup sensitif dan gerah dengan aksi parlemen jalanan. Kita tentu masih ingat, bagaimana Presiden ’’khawatir’’, untuk tidak menyebutnya grogi berlebihan saat demo Antikorupsi Sedunia pada 9 Desember 2009. Selain itu, aksi turun ke jalan saat memeringati 100 hari pertama kinerja pemerintahan juga membuat Presiden curhat soal kerbau yang dibawa peserta aksi.
Yang terjadi kemudian adalah, tuntutan para peserta aksi demo justru tak ditanggapi penguasa. Malah soal kerbau yang dinamakan ’’Si Buya’’ menjadi titik tekan perhatian Presiden. Terasa ada semacam mispersepsi antara elemen massa yang mengkritisi pemerintah dengan para elite yang menjadi sasaran demo. Menyadari hal semacam ini, perubahan paradigma gerakan mahasiswa melalui aksi menulis di media massa menemukan momentumnya.
Apalagi mahasiswa yang suntuk menggeluti dunia tulis-menulis mulai dari buku, jurnal, termasuk artikel dalam rubrik mahasiswa di media massa, masih amat sedikit. Padahal, media massa hari ini, khususnya surat kabar, telah menyediakan kolom bagi mahasiswa untuk menuangkan segala gagasan, ide, dan pemikiran. Semuanya bermuara untuk memberi solusi keadaan atas permasalahan yang sedang menghinggapi bangsa saat ini. Dengan menulis, maka ide, pikiran, dan gagasan mahasiswa dapat terdengar dan dibaca oleh banyak orang.
Forum Diskusi
Bukannya aksi turun langsung ke jalan sama sekali tidak penting, namun keadaan saat ini telah jauh berbeda dengan 1998. Mahasiswa yang digadang-gadang mampu tampil sebagai agen perubahan sosial, seyogianya membuat gerakan yang dapat menuai simpati dari khalayak. Bukannya antipati dan sumpah serapah dari rakyat yang notabene nasibnya menjadi tujuan untuk diperjuangkan oleh gerakan mahasiswa.
Misalnya saja, demonstrasi saat kenaikan harga BBM beberapa tahun lalu. Dengan turun ke jalan, disadari atau tidak, mahasiswa ikut menanam saham atas kemacetan di jalan.
Ikut urun rembuk, memberi ide segar sebagai solusi atas permasalahan bangsa sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, tentu jauh lebih terhormat ketimbang aksi demo yang tak jarang berakhir ricuh. Selain itu, mahasiswa juga dapat menggelar sejumlah forum diskusi yang mempertemukan pemerintah, LSM, akitivis, dan me-dia, duduk dalam satu meja. Paradigma baru gerakan mahasiswa untuk menulis di media massa juga berarti membuka ruang dialog, dan forum diskusi bagi seluruh civitas academica PT di seluruh Indonesia.
Sudah saatnya mahasiswa yang mengaku berjuang untuk rakyat meninggalkan aksi yang mementingkan otot dan okol, untuk berganti menjadi dialog yang mengedepankan akal dan rasio. (37)
— Bramma Aji Putra, dewan penasihat LPM Rhetor Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad