panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Kedu
25 November 2009
Festival Ketoprak Mengobati Rindu Penggemar
BAGI masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, kesenian ketoprak dulu jadi primadona. Paling tidak, keoprak paling disukai. Namun setelah perkembangan zaman, kesenian itu nyaris punah.

Kesenian yang memiliki filosofi tinggi dan banyak menceritakan tentang zaman kerajaan tempo dulu itu, saat ini ditinggalkan generasi muda. Mereka lebih suka menonton bioskop atau musik cadas yang notabone produk asing.

Padahal dulu saat ada pertunjukkan ketoprak, warga Yogyakarta dan sekitarnya berduyun-duyun menyaksikan pergelaran seni tradisional yang biasanya mentas di panggung terbuka tersebut.

Untuk membangkitkan kembali kesenian tersebut, selama tiga hari di Taman Budaya Yogyakarta, digelar Festival Kesenian Ketoprak Antarkabupaten dan Kota.

Meski jumlah penonton belum sebanyak yang diharapkan, panitia boleh berbangga diri. Sebab selama tiga hari, tempat festival Gedung Sosieteit, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dipenuhi pengunjung.

Para pecinta tontonan ketoprak di Yogyakarta yang kini berusia senja, mungkin masih terkenang bagaimana dulu semasa muda tergila-gila pada tokoh bambangan atau bintang panggung sepeti Marjiyo, Widayat, bahkan primadona (sripanggung) Marsidah.

Mereka juga masih merasakan kebencian pada tokoh antagonis seperti Mukiyar dan Dirjo Tambur? Semua kembali terekam dalam festival tersebut, sehingga kerinduan terhadap kesenian muncul lagi dan bangga melihatnya.

Teater Rakyat

Itu semua terjadi karena ketoprak sebagai teater rakyat. Pada zaman keemasannya, ketoprak benar-benar mampu meyakinkan penonton bahwa permainan mereka di panggung bukan sekadar cerita.

Namun kini, apakah pergelaran semacam itu masih bisa dinikmati? Lalu, bagaimana nasib ketoprak Mataram yang sudah identik dengan sebutan kesenian rakyat Yogyakarta ?

Meski saat festival digelar acap gerimis, ratusan penonton baik tua, muda, maupun anak-anak rela berdatangan untuk memenuhi gedung pertunjukan peninggalan Belanda tersebut.
Mereka, Sabtu malam (21/11) itu ingin menyaksikan penampilan peserta festival yang siap mengetengahkan lakon ‘Mranggas’.

Setelah sekitar satu jam menyaksikan kemeriahan penampilan cerita tersebut, para penonton yang duduk di kursi mirip bioskop melanjutkan menyimak penyajian peserta dari Kabupaten Sleman.

Kontingen ketoprak Sleman yang disutradarai Sugiman Dwi Nurseto ini akhirnya meraih sebagai penyaji terbaik I. Sedangkan Kabupaten Bantul yang pada malam sebelumnya menyajikan lakon ‘Suryo Wanci’ terpilih sebagai penyanji terbaik II.

Dewan juri terdiri atas Suharyoso, Habib Bari, Ki Murjono, Degok Anurogo dan Endra Trenggono memberikan penilaian bagi Kulonprogo yang mengetengahkan lakon ‘Korbaning Gegayuhan’ sebagai penyaji terbaik III, dan Gunungkidul dengan lakon ‘Sirnaning Angkara’ sebagai penyaji terbaik IV, diikuti kontingan Kota Yogyakarta sebagai penyaji terbaik V. (Sugiarto-72)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER