panel header
BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dalam rangka HUT Ke-62 Suara Merdeka, Lenssociety akan menggelar SUARA MERDEKA PHOTO RALLY, Minggu (12/2). Disediakan hadiah uang tunai Rp 12 juta, doorprize kamera DSLR Nikon dan Canon, Blackberry, handphone, televisi, voucher hotel, dan lain-lain. Kontribusi Rp 50.000/peserta, mendapatkan kaus dan makan siang. Pendaftaran di kantor SM, Gedung Unaki Jalan Pemuda 95-97 Semarang, Wahyudi (081326700700), Tom (08122575555), dan Star Flash Jalan Thamrin No 65 Semarang telepon 08156561800.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Pendidikan
12 November 2009
Suara Guru
Pahlawan Kejujuran
  • Oleh Ari Kristianawati
DRAMA perseteruan KPK-Polri yang membuka tabir mafia peradilan, secara langsung berpengaruh terhadap persepsi dan kesadaran publik, termasuk mereka yang tengah menuntut ilmu di bangku pendidikan formal.

Para siswa yang merupakan komunitas pembelajar yang kini dalam ruang kebebasan informasi bisa mengakses informasi luas, acapkali mempertanyakan tentang kasus populer tersebut.

Bagi siswa, kasus ”Cicak Vs Buaya” bukan sekadar persoalan mereka yang memegang otoritas kekuasaan, namun juga berelasi erat dengan kesuri-tauladanan sosial.

Para siswa yang saban hari mendapatkan pelajaran moral dan etika melalui bidang studi PPKn, Sejarah, dan Agama menjadi komunitas yang bimbang.

Di dalam mata pelajaran PPKn, Sejarah, Agama diungkap nilai ideal tentang kejujuran, kebaikan, budi pekerti, dan kebajikan. Namun para siswa disuguhi drama ketidakbermoralan dan ketidakjujuran mereka yang seharusnya menjadi suri tauladan bagi masyarakat.

Pelajaran di ruang kelas berbenturan dengan pelajaran di luar kelas tentang praktik korupsi, mafia peradilan, dan arogansi kekuasaan. Tidak mengherankan bila tumbuh pertanyaan retoris siswa: ”Bu, mengapa kita harus jujur, berbudi-pekerti, tidak korupsi, dan adil sementara para pemimpin dan pemegang amanah kekuasaan tidak seperti itu?”
Inilah ironi pendidikan kita saat ini. Nilai ideal yang dibelajarkan di bangku pendidikan formal justru mengalami fase penegasian oleh realitas ”telanjang” yang tidak sesuai dengan nilai ideal.

Untung, masih banyak bahan pelajaran di bangku sekolah tentang kesuri-tauladanan yang bisa digambarkan para pendidik kepada para siswa. Yakni pelajaran kepahlawanan yang autentik. Negara ini kaya akan sejarah kepahlawanan yang sesungguhnya, kepahlawanan yang berjuang tanpa pamrih.

Kepahlawanan yang berselubung nilai budi-pekerti, kejujuran, keadilan, kemanusiaan dari para pendiri negara dan para pejuang di garis depan melawan kolonialisme. cerita tentang Jendral Sudirman seorang tentara yang jujur, militan, dalam membela tanah air.

Cerita tentang pemikir hukum yang progresif yang baru saja mendapatkan titel kepahlawanan, Mr Achmad Subardjo, atau Tan Malaka yang rela dipojokkan untuk kepentingan politik kekuasaan dan harus diakhiri hidupnya saat berjuang melawan kolonial.

Kepahlawanan yang jujur yang disuri-tauladankan oleh para pendahulu dan pendiri republik ini menjadi ”penyejuk” keresahan batin siswa yang tidak menjumpai kesesuaian nilai ideal dan realitas sosial yang tengah menggelayuti bangsa ini. (45)
    
—Ari Kristianawati, guru SMAN 1 Sragen (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER