panel header
NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dalam rangka HUT Ke-62 Suara Merdeka, Lenssociety akan menggelar SUARA MERDEKA PHOTO RALLY, Minggu (12/2). Disediakan hadiah uang tunai Rp 12 juta, doorprize kamera DSLR Nikon dan Canon, Blackberry, handphone, televisi, voucher hotel, dan lain-lain. Kontribusi Rp 50.000/peserta, mendapatkan kaus dan makan siang. Pendaftaran di kantor SM, Gedung Unaki Jalan Pemuda 95-97 Semarang, Wahyudi (081326700700), Tom (08122575555), dan Star Flash Jalan Thamrin No 65 Semarang telepon 08156561800.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
18 Juli 2009
Forum Halaman Kampus (FHK)
Persma dan Problem Konsistensi
  • Oleh M Abdullah Badri
DALAM komunitas pers mahasiswa (persma) saya, LPM IDEA, budaya menulis memang sedang dibangun. Dalam setiap penerbitan, setiap kru diwajibkan menulis. Entah laporan berita, artikel, esai, cerpen, atau puisi, sesuai dengan minat masing-masing.

Mereka juga saya dorong untuk menulis di media massa. Dalam prosesnya, ternyata imbauan untuk menulis di koran mengalahkan kewajiban menulis di media sendiri. Mereka lebih asyik menulis di koran, sementara tugas penerbitan terbengkalai.

Ketika ada salah satu tulisan kru nampang di koran, adrenalin kawan yang lain ikut terpacu. Saling bersaing untuk menulis. Akhirnya, setiap pekan, silih berganti tulisan kru redaksi dimuat koran yang berbeda. Lokal maupun nasional.

Di satu sisi, saya bangga dengan proses kawan-kawan yang supersemangat itu. Namun di sisi lain, penerbitan yang saya pimpin tak kunjung terbit. Ketika saya bertanya kapan tugas tulisanmu selesai, alasan mereka selalu disibukkan dengan jam kuliah dan aktivitas di organisasi lain. Meski demikian, toh tulisan mereka di koran tetap ada yang nongol. Apa problem?

Tradisi Ilmiah

Prasangka saya mengatakan, menulis di koran —bagi kawan-kawan tersebut— lebih mudah daripada di persma. Sebab, di sana ada tuntutan untuk menjaga tradisi ilmiah, sementara di koran tidak terlalu.

Perlu diketahui, persma kampus saya memang konsen dalam bidang pemikiran Islam, sesuai dengan studi di Fakultas Ushuluddin. Jadi, tulisan yang dimuat harus berdasarkan analisis dan referensi jelas. Berbeda dengan menulis berita yang kebanyakan hanya merekaulang peristiwa yang telah terjadi dalam bentuk bahasa tulis.

Seorang kawan dari persma lain menyarankan saya agar jangan membuat mereka merasa terbebani dengan kewajiban menulis di persma sendiri. Saya mencoba melakukan itu dengan membebaskan kawan-kawan untuk menulis sesuai dengan kemampuan. Yang bagian analisis akan dilengkapi kru lain yang lebih senior. Ternyata usaha itu belum membuahkan hasil.

Diam-diam, saya desak mereka untuk mengungkapkan alasan. Alasan kuat mereka ternyata adalah laziness (kemalasan). Saya coba membangkitkan semangat dengan memberikan sertifikat bagi mereka yang menulis, yang sebelumnya tidak ada. Namun masih sama.

Pendekatan pribadi kemudian saya lancarkan, dengan mengajak diskusi empat mata, mengenai tema yang akan diangkat. Namun masih diam juga, tak berubah.

Saya mencoba bersikap tegas, dengan melakukan teror-teror psikologis. Akibatnya tak terduga, mereka malah jarang main ke kantor redaksi, menjauh, padahal sebelumnya mereka rajin.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang menulis di media massa, karena itu adalah hak pribadi. Barangkali alasan utama mereka menulis di koran karena mengharap imbalan honor, sementara di persma, tidak.

Akibatnya, penerbitan tidak pernah konsisten terbit, terlambat. Melalui rubrik ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman sekaligus mencari solusi dari kawan lain yang membaca. Adakah? (32)

—M Abdullah Badri, pimred LPM IDEA Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER