panel header
BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dalam rangka HUT Ke-62 Suara Merdeka, Lenssociety akan menggelar SUARA MERDEKA PHOTO RALLY, Minggu (12/2). Disediakan hadiah uang tunai Rp 12 juta, doorprize kamera DSLR Nikon dan Canon, Blackberry, handphone, televisi, voucher hotel, dan lain-lain. Kontribusi Rp 50.000/peserta, mendapatkan kaus dan makan siang. Pendaftaran di kantor SM, Gedung Unaki Jalan Pemuda 95-97 Semarang, Wahyudi (081326700700), Tom (08122575555), dan Star Flash Jalan Thamrin No 65 Semarang telepon 08156561800.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
15 Juli 2009
Membumikan ”Tegal Gotong Royong”
  • Oleh Toto Subandriyo
BEBERAPA bulan terakhir ”Tegal Gotong Royong” menjadi terminologi yang paling sering diucapkan dalam rapat-rapat resmi lingkup Pemerintah Kabupaten Tegal, atau ditulis dalam baliho dan banner yang banyak terpampang di tempat-tempat strategis di Slawi.

Kalimat tersebut merupakan sepenggal visi Bupati/Wakil Bupati Tegal terpilih masa bakti 2009-2014.  Bunyi visi selengkapnya adalah ”Tegal Gotong Royong yang Dilandasi Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”. 

Menurut buku ”Kamus Politik Lokal” karangan Dr Purwadi dan Imam Samroni SPd (2003), terminologi gotong royong diartikan sebagai kerja sosial besar dan berat tetapi terasa ringan karena ditangani orang banyak secara beramai-ramai.  Masing-masing warga masyarakat terlibat sesuai dengan profesi dan kemampuannya.

 Gotong royong merupakan cara paling mudah untuk memobilisasi partisipasi warga. Hubungan antar individu tidak dilandasi semata-mata oleh untung-rugi material. 

Jika ditelisik lebih jauh, substansi dari visi tersebut mengarah pada upaya menggelorakan kembali apa yang disebut oleh Francis Fukuyama sebagai modal sosial dan kearifan lokal yang selama ini dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Tegal. Modal sosial dan kearifan lokal tersebut antara lain berbentuk semangat gotong royong, semangat untuk membantu kepentingan orang lain (altruism), dan cinta kasih kepada sesama (filantropi).

Modal sosial itu memegang peran sangat penting dalam memfungsikan dan memperkuat kehidupan masyarakat modern bagi pembangunan manusia, pembangunan ekonomi, sosial, politik dan stabilitas demokrasi.
Modal sosial yang lemah akan meredupkan semangat gotong royong,
memperparah kemiskinan, meningkatkan pengangguran, kriminalitas, serta menghalangi setiap upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat (Fukuyama, 1999).

Modal sosial dan kearifan lokal tersebut diharapkan dapat bersinergi dengan tekad Pemerintah Kabupaten Tegal untuk melepaskan diri dari berbagai permasalahan yang mendera.

 Menurut Bupati H Agus Riyanto (Suara Pantura, 4/7), semangat gotong royong yang sudah mengakar di masyarakat sejak dulu, kini dirasakan semakin meluntur. Perkembangan dan kemajuan zaman dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi.

Untuk itulah semangat gotong royong perlu kembali digelorakan agar lebih membumi. Secara historis masyarakat Kabupaten Tegal memiliki semangat gotong royong yang sangat tinggi. Termasuk semangat yang terkandung dalam adagium Banteng Loreng Binoncengan, sifat berani, lugas, inovatif, dan tidak kenal basa-basi dalam pergaulan.

Semangat tersebut tercermin pada sosok Ki Gede Sebayu sebagai pendiri ”Negari Tegal”. Ki Gede Sebayu pada zamannya adalah sosok pemikir yang visioner dan pekerja keras, dua sifat yang kelak diwariskan pada anak cucunya warga Kabupaten Tegal. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa Ki Gede Sebayu seorang pemikir visioner adalah dari kepandaian membaca tanda-tanda alam dan zaman. 

Sebagai seorang pemimpin, Ki Gede Sebayu pantang menyerah pada kondisi alam di daerahnya. Kondisi tanah yang umumnya marginal kemudian disulap menjadi tanah-tanah subur berpengairan teknis.

Salah Satu karya Ki Gede Sebayu paling monumental yang hingga kini manfaatnya masih terus dinikmati oleh masyarakat Kabupaten Tegal adalah Bendungan Danawarih yang dibangun di Kali Jembangan dan Kali Gung dengan Pintu Jimat sebagai intake.

Bendungan ini kelar dibangun secara gotong royong masyarakat tani pada hari Rabu terakhir pada  Safar 1596.  Hingga kini momentum tersebut selalu diperingati dalam bentuk ritual Rebo Wekasan.

Semangat gotong royong masyarakat Kabupaten Tegal sehari-hari tercermin antara lain dari cara menyelesaikan setiap beban persoalan yang dihadapi secara ”kuntheng” (rukun entheng). Budaya kerigan bareng (kerja bakti bersama-sama), juga merupakan modal sosial dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Kabupaten Tegal.

Misi kedua Pemerintah Kabupaten Tegal berbunyi: ”Memperkokoh Ekonomi Kerakyatan dengan Prinsip Kemitraan yang Sinergis antara Masyarakat, Swasta dan Pemerintah yang Didukung Pengelolaan Berkelanjutan Seluruh Sumber Daya Alam”.

Dibuka ruang dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam membangun Kabupaten Tegal sesuai dengan profesi dan kemampuannya.

Sekecil apa pun bentuk partisipasi tersebut akan mempunyai nilai manfaat yang tinggi dalam menggelorakan kembali semangat gotong royong masyarakat. (35)

—Toto Subandriyo, penggagas Komunitas b@tu (Baca-Tulis) Kabupaten Tegal (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER