panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Semarang Metro
22 Desember 2008
Catatan Akhir Tahun Kota Semarang (1)
Problem Klasik yang Tak Kunjung Terurai
  • Refleksi Akhir Tahun
Tahun 2008 tinggal membilang hari. Sejumlah prestasi dicatat, sejumlah masalah tertangani. Namun, pada saat yang sama, masih banyak persoalan yang menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu segera diselesaikan. 

DARI tahun ke tahun persoalan yang dihadapi Kota Semarang tampaknya tidak beranjak dari ’’yang itu-itu saja’’. Celakanya, walaupun problem yang dihadapi bersifat klasik, penyelesaian yang dilakukan seperti tak tuntas.

Walhasil, kita seperti menghadapi film yang diputar ulang, selalu bersitatap dengan persoalan yang sama dari waktu ke waktu.

Banjir dan rob, misalnya, telah bertahun-tahun menjadi ’’sahabat karib’’ warga Kota Semarang, khususnya yang tinggal di daerah bawah. Walaupun sejumlah upaya telah dilakukan, baik oleh Pemkot maupun masyarakat, luasan catchment area atau wilayah genangan cenderung tak berkurang.

Data Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) Kota Semarang menyebutkan, tak kurang dari 35 kelurahan di 10 kecamatan diidentifikasi sebagai wilayah rawan banjir, yakni di Kecamatan Gunungpati, Tembalang, Candisari, Semarang Timur, Semarang Utara, Semarang Barat, Tugu, Gayamsari, Pedurungan, dan Genuk.

Masalah di kota bawah belum selesai, belakangan muncul titik-titik genangan baru, termasuk di wilayah kota atas. Pembukaan perumahan baru yang tidak diikuti dengan perencanaan drainase yang matang, diduga kuat menjadi penyebab munculnya kawasan banjir baru tersebut.

Belum selesainya penataan drainase dan normalisasi sejumlah sungai besar di wilayah Semarang bawah, membuat banjir dan rob belum terselesaikan secara sempurna. Pembangunan Waduk Jatibarang, include di dalamnya normalisasi sejumlah sungai besar, menjadi salah satu tumpuan solusi masalah banjir dan rob.

Rencananya megaproyek yang didanai dari pinjaman Japan Bank for International Cooperation (JBIC) senilai Rp 1,7 triliun itu, memasuki tahapan pekerjaan konstruksi tahun depan. Saat ini proses pembebasan lahan untuk proyek tersebut masih berlangsung.

Masalah Sosial

Di luar banjir dan rob, sebagai kota yang tengah berkembang menuju metropolitan, Semarang diadang sejumlah masalah sosial. Hingga pengujung 2008, masalah-masalah seperti pedagang kaki lima (PKL), anak jalanan, hingga parkir masih mewarnai perjalanan ibu kota Jawa Tengah.

Pemkot bukannya tinggal diam dalam menangani PKL dan anak jalanan. Dari sisi regulasi, Semarang telah memiliki regulasi yang mengatur kedua persoalan itu, baik berupa perda maupun SK Wali Kota.

Khusus tentang PKL, telah disiapkan sejumlah sentra penampungan, seperti kompleks Pasar Waru, Kokrosono, maupun shelter di Pekunden. Tapi, sampai sekarang upaya itu tak memperoleh sambutan. Masih banyaknya PKL yang berjualan di daerah merah atau kawasan larangan menjadi bukti, PR mengenai PKL itu belum sepenuhnya terselesaikan. 

Persoalan perparkiran juga belum tuntas terselesaikan pada 2008. Di lapangan masih banyak masalah yang dijumpai berkait dengan perparkiran, mulai dari parkir di tempat terlarang, tarif tidak sesuai dengan ketentuan, hingga karcis palsu.

Upaya yang diambil Pemkot melalui Dinas Perhubungan dengan menata ulang perparkiran pada pengujung tahun ini, memberi harapan akan terurainya salah satu problem tersebut. (Achiar M Permana-37)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER