panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Pendidikan
15 Oktober 2008
Guru Resahkan Proses Sertifikasi
SEMARANG - Para guru meresahkan proses sertifikasi. Pasalnya, kerja keras yang mereka lakukan untuk memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan tak menjamin mereka akan lulus uji sertifikasi. Apalagi dengan adanya proses cleaning data.

“Bagaimana kalau dinyatakan lulus di tingkat rayon tapi ternyata nama saya tidak tercantum di pusat? Nggak jadi lulus?” kata Hadiningsih.

Guru Sosiologi SMAN 6 itu menyatakan kecewa kalau nantinya dinyatakan tidak lulus hanya gara-gara namanya tidak tercantum di Dirjen PMPTK.

Kalaupun ada proses cleaning data, dia meminta, hendaknya dilakukan sebelum penilaian. “Wah bisa jadi kerja keras kami sia-sia,” keluhnya.

Bayangkan saja, lanjutnya, untuk memenuhi persyaratan administratif sertifikasi guru itu dia harus bekerja keras. Bahkan guru yang telah memiliki pengalaman mengajar 24 tahun itu mengaku mengerjakan dokumen hingga larut malam.

Belum lagi harus mencari dokumen lama, seperti SK awal mengajar. “Bayangkan saja, dokumen itu terbit pada 1984,” imbuhnya.

Untuk melengkapi persyaratan, dia mengerjakannya bersama rekan-rekannya di sekolah. Tak berhenti di sekolah, ketika sudah larut malam, dia pun terpaksa meneruskannya di rumah hingga pagi. Benar-benar perjuangan yang berat, mengingat esok harinya dia harus kembali mengajar.

“Akan lebih kecewa lagi kalau ternyata dinyatakan tidak lulus, sedangkan mereka yang masa kerjanya lebih sedikit justru lulus,” kata dia.

Masa Mengajar

Untuk itu, dia berharap proses sertifikasi itu cukup dilihat dari masa mengajar. Hal itu dianggapnya lebih adil daripada proses yang sekarang. “Apalagi ketika diharuskan mengikuti pelatihan. Untuk guru yang sudah berumur seperti kita, pelatihan menjadi hal yang memberatkan, terutama dilihat dari segi fisik,” kata guru bersuia 51 tahun itu.

Hal senada juga diungkapkan Endang SL. Guru PPKn  dengan masa kerja 24 tahun itu juga menyayangkan proses sertifikasi yang berlaku saat ini.

Menurutnya, cleaning data seharusnya dilakukan pada awal proses, bukannya ketika peserta sudah dinyatakan lulus di tingkat rayon. “Ini benar-benar meresahkan,” tandasnya.

Kekecewaan terhadap proses sertifikasi juga diungkapkan Marnala Harijanda. Pasalnya, guru Matematika itu belum bisa mengikuti sertifikasi meskipun masa kerjanya memenuhi syarat, yaitu 23 tahun.

Alasannya adalah keterbatasan kuota. Sungguh ironis. Sebab, jumlah peserta sertifikasi Rayon 12 Semarang masih di bawah kuota yang ditentukan. (H31-71)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER