panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Semarang Metro
03 Juli 2008
Penyebar Agama Islam dan Pendiri Desa
Rebo Legi, Warga Meteseh Ziarah ke Yosopuro
JALAN setapak selebar kurang dari satu meter itu tak biasanya penuh sesak. Sebagian besar adalah kaum wanita dengan mengenakan busana muslimah dan kaum pria memakai baju koko serta peci.

Mereka berjalan beriringan dengan beberapa di antaranya terlihat membawa 22 nasi tumpeng lengkap dengan urap dan lauk-pauk.

Seratusan warga Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kendal, Rabu Legi (2/7), memang lebih sibuk dari biasanya. Tua, muda, dan  beberapa anak berbondong-bondong menapak jalan di sebelah barat peternakan ayam tersebut.

’’Setiap satu pasaran, yaitu Rabu Legi warga menggelar ziarah kubur dan berdoa di makam pendiri desa ini, Mbah Yosopuro yang juga tokoh penyebar agama Islam,’’ kata Kades Meteseh H Maula Bagus, di sela-sela acara, kemarin.

Prosesi doa dipimpin seorang ulama sudah berlangsung sejak bertahun-tahun silam. ”Kami berharap lokasi ini bisa dijadikan tujuan wisata spiritual dan dibuka untuk umum. Keberadaan makam dapat dijadikan sebagai tetenger desa,’’ katanya.

Penghormatan yang diberikan warga kepada sosok Yosopuro telah  diaktualisasikan jauh-jauh hari. Yakni, memberikan dan memajang nama Jl Yosopuro pada jalan setapak menuju areal rumah yang di  dalamnya terdapat makam Yosopuro, istri, dan seorang cantriknya.

Dalam ziarah tersebut, warga yang datang terlihat kusyuk mengikuti prosesi. Lantunan ayat-ayat suci terdengar tanpa henti selama kegiatan berlangsung.

Pembawa Mustaka

Konon, Mbah Yosopuro diyakini masyarakat sebagai salah seorang pengarak sebuah mustaka masjid yang dibawa dari Mayong, Jepara, untuk selanjutnya diboyong ke Songgopuro.

’’Yang dimaksud Songgopuro yaitu Singapura. Dalam arak-arakan pembawa mustaka itu, Mbah Yosopuro didaulat sebagai panglima  perang, ikut mendampingi Mbah Somopuro selaku pembawa mustaka,’’ tuturnya.
Namun, lanjut Kades Maula, sebelum tiba ke tempat tujuan, arak-arakan tersebut dipergoki orang, akhirnya perjalanan tidak dilanjutkan.

’’Awalnya lokasi pemberhentian ini dikira Songgopuro, tetapi belakangan adalah Desa Meteseh. Mustaka masjid tersebut sampai sekarang masih ada di Desa Sonopuro, Boja, dan belum terpasang,’’ ujarnya.

Lantaran urung melanjutkan perjalanan, sebagian prajurit pengarak memilih pulang ke Demak Bintoro, serta beberapa di antaranya menetap di Desa Meteseh. Mereka yang menetap antara lain Mbah Yosopuro, Nyai Malanggati di Sonopuro, Nyai Semplung di Desa Campurejo, Boja.

’’Ketika telah menetap di Meteseh, Mbah Yosopuro kedatangan tamu, Kiai Cekel Endroloyo dan Kiai Mengguro. Mereka akhirnya ikut menetap di desa yang sama.’’
Sepanjang hidup, selain menyebarkan agam Islam, Yosopuro juga senang bercocok tanam dan mencari ikan di sungai.

’’Suatu saat Mbah Yosopuro pernah menangkap seorang penjahat di Kedungbegal yang kini berganti menjadi Dusun Rowosari, Boja. Penangkapan tersebut tanpa melalui kekerasan, tetapi hanya dengan doa-doa,’’ tambahnya. (Setyo Sri Mardiko-37)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER