panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
11 Maret 2008
Menunggu Tuah Blok Cepu
  • Oleh Sudharto P Hadi
PENYERTAAN modal atau participating interest pada eksplorasi tambang minyak Blok Cepu oleh pemerintah daerah baru saja direalisasi. Melalui kerja sama penyertaan modal ini, diharapkan kegiatan penambangan dapat meningkatkan pendapatan daerah dan menyejahterakan masyarakat sekitar.

Di tengah krisis energi dan sulitnya kehidupan masyarakat bawah, keberadaan Blok Cepu tentu membersitkan harapan. Sejak konsesi kontrak ditandangani setahun lalu, pro-kontra terus menyeruak ke permukaan.

Jatuhnya pilihan pada perusahaan asing dikawatirkan meminggirkan masyarakat lokal sebagaimana terjadi di berbagai lokasi penambangan. Mantan ketua MPR Amien Rais wanti-wanti agar Blok Cepu tidak seperti Freeport (Suara Merdeka, 21 Maret 2006). 

Terlepas asing atau dalam negeri,  berbagai kegiatan penambangan termasuk minyak di berbagai tempat di negeri ini sering menyisakan konflik dan ketidakadilan.  

Kelaparan di Lumbung Padi

Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945 mengamanatkan, ”Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Karena itu, pemanfaatan sumber daya alam harus ditujukan untuk kesejahteraan manusia Indonesia secara berkelanjutan.
Jika dicermati, ciri eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam (termasuk minyak) memiliki potensi kemanfaatan dalam mendorong ke arah kemakmuran. Pertama, pembangunan infrastruktur dalam bentuk jalan, jembatan, listrik mendorong laju perekonomian lokal dan regional.

Kedua, investasi besar dan sarat teknologi dapat memicu perubahan sosial ekonomi dalam bentuk kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan dampak ikutan lainya. Namun, selama ini potensi positif itu tidak mampu mengompensasi potensi negatif, sehingga kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam sering menimbulkan konflik dengan masyarakat sekitar.

Kesempatan kerja biasanya jatuh pada pendatang yang punya kualifikasi pendidikan dan keterampilan lebih tinggi daripada penduduk lokal. Posisi penduduk lokal malah tersisih. Mereka yang telah turun-temurun mengelola sumber daya alam secara tradisional  —misal bercocok tanam di hutan— harus tergusur oleh perusahaan penambangan yang mendapat konsesi dari pemerintah. 
Tidak mengherankan jika ada daerah dengan sumber daya alam melimpah, tetapi penduduk sekitar justru dilanda kemiskinan. Ibarat ayam kelaparan di lumbung padi.

Provinsi Riau kaya minyak, sampai-sampai nomor kendaraannya pun berlabel BM (konon berarti banyak minyak). Namun sebagian besar penduduk lokal dalam kondisi tertinggal. Hal yang sama juga dialami penduduk di sekitar daerah penambangan minyak di Plaju, Sungai Gerong, Sumatera Selatan.
Cerita memilukan juga terjadi di Kalimantan Timur yang kaya sumber daya mineral seperti batubara dan gas bumi, maupun penambangan timah di Bangka Belitung yang hanya menyisakan lubang-lubang bekas penambangan.

Di sisi lain, sifat penambangan yang padat modal dan teknologi memunculkan potensi enclave atau eksklusif. Kalau kita lihat areal perusahaan minyak di Pekanbaru, berikut permukiman mewah, sungguh kontras dengan kondisi permukiman di luar area yang masih centang perentang.
Seorang wali kota di Kalimantan Timur yang wilayahnya memiliki dua perusahaan besar dalam pengelolaan gas alam menggambarkan kondisi ironis ini dengan gaya kelakar.

Jika kita memasuki perusahaan yang satu, kondisinya green and clean seperti di Singapura. Sedangkan perusahaan satunya lagi kondisinya tertata rapi seperti Kuala Lumpur. Tapi di luar area kedua perusahaan itu, yang notabene wilayah umum kota, kondisinya penuh lumpur.

Gambaran di atas menjadi makin krusial, mengingat minyak seperti bahan tambang lain merupakan energi yang tidak terbarukan (non renewable resource). Sifat ini mengindikasikan bahwa eksploitasi minyak merupakan kesempatan bagi masyarakat yang hanya datang sekali saja.

Di sisi lain, investasi pertambangan merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan manfaat dari sumber daya mineral termasuk minyak.

Transformasi Sosial

Karena itu, eksploitasi sumber daya mineral termasuk minyak harus mampu menciptakan kondisi awal serta kemampuan-kemampuan agar masyarakat dapat mengantipasi kehadiran perusahaan penambangan itu. Bahkan harus tetap bisa survive ketika sumber daya alam itu habis dieksploitasi.

Kalau investor mengharap return of investment, masyarakat harus memperoleh return of asset (ROA). Yang disebut aset bukan hanya sumber daya alam yang ditambang, tetapi juga tanah, sungai, hutan, dan air yang harus tetap bisa dimanfaatkan setelah perusahaan minyak berakhir beroperasi.

Hal ini berarti bahwa kegiatan penambangan minyak harus tetap bisa memelihara kondisi lingkungan untuk menjamin pemanfaatan berkelanjutan. Eksplorasi dan eksploitasi minyak di Blok Cepu sudah seharusnya didayagunakan sebagai wahana transformasi sosial yang hakikatnya merupakan inti dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Tanggung jawab sosial sesungguhnya merupakan upaya mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan masyarakat ke dalam pengambilan keputusan, strategi dan operasi perusahaan.  Seperti diketahui, CSR merupakan tanggung jawab perusahaan yang meliputi perlindungan HAM, pengembangan masyarakat, dan lingkungan hidup. Yang termasuk dalam perlindungan HAM antara lain memberikan upah yang layak, tidak diskriminatif, dan tak berbau SARA.
Pengembangan masyarakat merupakan bentuk kepedulian yang bukan hanya dalam bentuk penyediaan sarana, prasarana, dan pendidikan semata, tetapi juga menyiapkan masyarakat menuju kemandirian melalui kegiatan penguatan ekonomi lokal.

Kepedulian pada lingkungan hidup ditunjukkan dengan mengelola kegiatan agar tidak menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Selama ini, CSR masih banyak dipahami sebagai bentuk pemberian bantuan sarana, prasarana, atau sembako.

Nah, mumpung masih dalam tahapan awal, transformasi sosial sudah seharusnya diagendakan dalam rencana penambangan minyak Blok Cepu. Karena semua pihak pasti tidak ingin kisah sedih di Riau, Kaltim, dan Bangka Belitung terulang kembali di Cepu. (32)

–– Sudharto P Hadi,       dosen Manajemen Lingkungan Universitas Diponegoro. 

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER