panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Selebrita
10 Maret 2008
Keindahan di Luar Naskah
  • Oleh Achiar M Permana
KENDATI dibayangi kesedihan oleh kematian Sarno, kawan sekampungnya yang dipanggil Tuhan dua hari sebelumnya, Ana dan kawan-kawan tetap berupaya menampilkan kemampuan terbaiknya. Anak-anak dari Kampung Gebyog, Gunungpati itu, berusaha keras menghadirkan lakon Genaon Kentrung karya Catur Widya Pragolapati sebagai pementasan yang bisa dinikmati.
Maka, maklumilah ketika ada yang kurang, ketika lakon itu dimainkan dalam format dramatic reading, di kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Jl A Yani, Ungaran, baru-baru ini. Kelebat kesedihan atas kematian Sarno itu, sesekali membuat konsentrasi mereka ”lepas” atau irama permainan yang cenderung ngungun.

Pementasan itu mengawali soft launching buku Barji-Barbeh, buku kumpulan naskah drama berbahasa Jawa karya Catur Widya. Buku yang dirilis oleh penerbit Cipta Prima Nusantara Semarang (CPNS) itu berisi tiga naskah, salah satunya Genaon Kentrung. Sesudah pementasan, digelar bedah buku dengan pembicara Gunawan Budi Susanto dan Yusro Edy Nugroho.
Lalu, kalau begitu, di manakah keindahan Genaon Kentrung? Gunawan Budi Susanto menyebut, keindahan naskah Babahe—demikian Catur Widya Pragolapati lebih dikenal— justru terletak di luar naskah. Lakon itu ditulis Babahe sebagai hasil persentuhannya dengan anak-anak Kampung Gebyog, Gunungpati. Termasuk Ana, termasuk Sarno, yang meninggal beberapa hari sebelum pementasan.

”Kalau dilihat dari isi, saya kira Genaon Kentrung tidak istimewa,” komentar Gunawan, ”Proses penulisan naskah itu yang menarik, sekaligus menjadi nilai lebih.”
”Dari sudut pandang Aristotelian, naskah Babahe ini tak memiliki klimaks yang tegas. Cenderung datar, ngelangut,” timpal Yusro, ”di sisi lain, sarat dengan nilai edukasi yang berjejalan.”
Namun, menurut Yusro, naskah yang dibukukan dengan judul Bardji-Barbeh memiliki nilai penting. Ia hadir mengisi kekosongan naskah drama berbahasa Jawa, setelah Bambang Widoyo Sp alias Kenthut dari Teater Gapit Solo, meninggal dunia.

Hasil Interaksi

Ya, naskah Genaon Kentrung memang hadir dari pergaulan Babahe dengan anak-anak Kampung Gebyog. Sejak perhelatan Marung Seni Nyawuk Kali di Gebyog, Juli tahun lalu, Babahe intens berinteraksi dengan anak-anak kampung itu.

Gebyog, menjadi salah satu orbit Babahe, selain Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), kontrakannya di Lamper, atau sekolah-sekolah tempat dia mengajar ekstrakurikuler teater. Singkatnya, sejak Marung Seni, Babahe jadi lebih sering dolan ke Gebyog. Tidak hanya dalam konteks latihan teater bersama-sama, melainkan pada interaksi keseharian pula.

Dari sisi tokoh dan muatan ceritanya, kentara benar, Genaon Kentrung merupakan sekuel Kandheg, lakon drama berbahasa Jawa karya Catur Widya Pragolapati sebelumnya. Kedua naskah itu sama-sama memasang tokoh Mbah Carito dan meruapkan keprihatinan terhadap kian terpinggirnya dolanan-dolanan tradisional.

”Hanya saja, dibandingkan Kandheg, Genaon Kentrung relatif lebih maju dengan tidak menjadikan Mbah Carito sebagai tokoh sentral. Itu menandakan, Genaon Kentrung membawa semangat demokratisasi, dengan menjadikan anak-anak sebagai pembentuk cerita,” puji penyair Wage Tegoeh Wijono, yang juga ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang (Dekase). (71)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER