panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
home > Bicara Fakta
23 Mei 2012 | 11:12 wib
"Capres Lotre" di Tengah Krisis Keteladanan
.

TAHUN 2014 masih jauh dari hitungan hari, bahkan bulan. Namun, wacana mengenai siapa bakal calon Presiden (capres) yang bakal menggantikan Presiden saat ini sudah ramai dipergunjingkan. Beberapa tokoh yang di depan namanya telah layak diberi gelar "sesepuh" tetap ingin unjuk gigi karena merasa masih populer.

Fenomena yang muncul jika menilik pemilu-pemilu ditahun lampau, capres yang bermunculan selalu berasal dari orang-orang yang dalam pemilu sebelumnya gagal, yang juga merupakan ketua umum partai politiknya tersebut. 

Jika menelaah lebih luas, sumber-sumber pemimpin nasional tidak hanya bisa dilahirkan melalui partai politik saja. Perguruan tinggi sebagai lembaga akademisi yang banyak mencetak para pemikir serta lembaga-lembaga negara lain tempat berkecimpungnya orang-orang yang sibuk berkarya, bisa saja merupakan tempat lahirnya pemimpinan nasional.

Selama ini rakyat selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sudah tercetak dalam kertas pemilu, terdiri dari beberapa nama kandidat. Bagaikan lotre, mereka "dipaksa" memilih mencoblos salah satunya, yang terbaik diantara calon lainnya dalam kertas.

Tapi apakah yang terbaik dalam kertas tersebut berarti terbaik di antara seluruh rakyat Indonesia. Agaknya banyak pula "nama" calon pemimpin yang namanya belum tercantum di dalam kertas, yang juga layak memimpin Indonesia.

Beberapa waktu belakangan seiring maraknya pergunjingan soal capres 2014 kalangan pemerhati politik melontarkan gagasan yang menyadarkan kita, bahwa parpol sebagai pilar demokrasi seharusnya meninggalkan pola pikir bahwa calon presiden (capres) harus berasal dari parpol atau yang merupakan ketua umum parpol. Parpol diminta untuk lebih mendengarkan suara publik. Parpol diharap agar benar-benar menjadi pilar demokrasi, memilih figur yang memang benar-benar diminati oleh rakyat dan yang terpenting, baik untuk rakyat bukan sekedar populer.

Krisis Keteladanan

Di tengah maraknya pergunjingan media mengenai siapa bakal capres yang diusung masing-masing partai politik, Indonesia masih melulu dihadapkan pada persoalan yang kini kian menjadi borok di tengah masyarakat, yaitu korupsi dan kekerasan.

Tak usahlah kita pergi meninggalkan pola pikir yang arif dan beralih jadi kritis untuk sekedar melihat dengan lebih jelas, problematika bagaimana saat ini kecenderungan kepemimpinan, dari atas hingga bawah diwarnai dengan watak kekuasaan yang cenderung korup. Terlebih tampaknya hal ini kemudian menjadi semacam budaya, karena dilakukan terus menerus, berulang-ulang dan tanpa rasa malu.

Jalan mencapai kekuasaan pun biasa didapatkan dengan bagi-bagi "upeti" yang kemudian membuat kokohnya mental korup. Merujuk pada pemikiran Amin Rais, penyakit korupsi telah melembaga dalam denyut birokrasi negeri ini. Terlihat, secara tradisional kebiasaan upeti untuk raja adalah benih-benih korupsi. Rasa "sungkan" mengungkap skandal korupsi, turut juga menyemaikan kebiasaan buruk itu.

Rakyat kiranya merasa frustasi atas skandal korupsi para pemimpinnya. Yang dulu dipilih karena (dikira) dikenal memiliki image baik dan ideal bagi seorang pemimpin, tapi justru setelah jadi penguasa, lambat laun berperilaku hidup yang kian menonjolkan kesenjangan antara si miskin (rakyat kecil-red) dan si kaya (penguasa-red).

Masyarakat yang melakukan anarkisme sosial dalam bentuk kerusuhan, penjarahan, tawuran, kericuhan dan penganiyaan atas sesamanya akan merasa tidak bersalah. Hal ini disebabkan karena rasa putus asa dan tidak percaya lagi bahwa elit penguasa sungguh-sungguh mau memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Pada gilirannya nanti bukan tidak mungkin sikap keteladanan yang salah kaprah akan mendorong rakyat untuk ikut-ikutan melakukan korupsi, merusak etika sosial dan tidak lagi percaya pada elit penguasa.

Mengutip kata Pendiri Maarif Institute, Buya Syafii Ma’arif, pemimpin tidaklah harus dari kalangan elite. "Orang biasa" namun memiliki kemampuan luar biasa juga patut dipertimbangkan. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan, kemungkinan bila si "orang biasa" menjadi pemimpin, idealismenya akan dapat terus bertahan. Keteladanan luhur sosok pemimpin dalam bersikap dan berbuat sesuatu bagi sekelilingnya adalah syarat mutlak pemimpin.

Dalam konteks keteladanan pemimpin, Kouzes dan Posner (2007) menyatakan dari lima praktik keteladanan, salah satunya adalah Model the Way. Dimana dalam memimpin berarti pemimpin atau calon pemimpin harus menjadi contoh yang baik, dan mewujudkan benar apa yang ia katakan. Gelar merupakan pemberian, tetapi kehormatan hanya dicapai melalui tingkah laku. Perbuatan jauh lebih penting dari perkataan. Pemimpin harus menunjukkan contoh terlebih dahulu dalam tindakan sehari-hari dan mempertunjukkan komitmen yang mendalam atas apa yang diyakininya.

Calon pemimpin seharusnya lebih mengedepankan sikap keteladanan. Hal tersebut agaknya jauh lebih baik dan lebih indah, dibandingkan sekedar menjual janji-janji, "cek kosong", atau popularitas yang dibangun melalui komunikasi politik.

( Tiko Septianto / CN32 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga
Komentar dari FB


Panel menu
Berita terbaru
Index Berita
29 Juli 2014 | 09:20 wib
Dibaca: 23
29 Juli 2014 | 09:00 wib
Dibaca: 60
29 Juli 2014 | 08:45 wib
Dibaca: 119
29 Juli 2014 | 08:30 wib
Dibaca: 120
29 Juli 2014 | 08:15 wib
Dibaca: 230
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER