panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
27 Juli 2013 | 04:47 wib
Masjid Peninggalan Pangeran Diponegoro
Berdiri di Antara Pertokoan dan Suasana Oriental
image

SALAH satu penanda keberadaan masjid ini adalah sebuah papan nama di tepi Jalan Beteng. Tertempel pada tembok, papan itu bertuliskan Masjid Annur dan sebuah tanda panah. Penunjuk itu mengarah pada gang sempit bernama Menyanan Kecil.

Di gang yang tidak mungkin dilewati mobil itulah berdiri Masjid Annur Diponegoro. Cukup unik memang, karena tempat ibadah ini berdiri di antara pertokoan dan suasana oriental yang kental. Dinamai Diponegoro karena konon masjid ini merupakan peninggalan salah satu pahlawan nasional itu ketika menjadi pelarian, saat diburu oleh tentara kolonial Hindia Belanda.

Sumarno (41), bagian rumah tangga masjid, menceritakan sebelum menjadi masjid bangunan itu merupakan sebuah petilasan Pangeran Diponegoro. Bangunan itu ditemukan sekitar tahun 60-an. Dulu tempat itu tertutup karena dikelilingi oleh tembok tinggi. Lalu, katanya, oleh Masjhud (alm) bangunan itu kemudian direnovasi menjadi masjid.

''Sesepuh di sini keluarga Bapak Masjhud diimpeni bahwa ada tempat ibadah di sekitar lokasi. Kemudian dicari dan akhirnya ketemu ada tempat ibadah di balik tembok. Dulu tempat ini tertutup karena memang bekas persembunyian,'' ujar Sumarno.

Menurutnya, yang masih asli dari peninggalan Diponegoro adalah empat pilar yang berada di belakang pengimaman. Kondisi tiang-tiang itu masih baik. Pada 1990-an masjid diperlebar dengan menambah satu lantai di lantai dua sekarang. Meski begitu, ruang masjid masih tidak cukup untuk menampung jamaah, terutama ketika shalat Jumat.

''Jamaah sampai membludak ke jalan. Karena itu, kami berencana memperlebar lagi dengan memperlebar lantai di lantai dua usai Lebaran nanti. Ketika dipakai shalat Jumat atau untuk shalat Id, masjid hampir tidak bisa menampung jamaah,'' kata Sumarno.

Meski berada di gang sempit, di dalam masjid terasa sejuk. Tak jarang jamaah tidur sebentar untuk melepas lelah. Namun Sumarno mengingatkan agar mereka tidak tidur di dekat pengimaman. ''Katanya, ada makam di sebelah kanan dan kirinya,'' ujarnya.

Dalam kesempatan sebelumnya, sesepuh Kampung Menyanan H Imam Syafii menuturkan, sebelum menjadi masjid, bangunan itu hanya mushala dengan ukuran 3 x 3 meter. ''Kalau bangunan asli masih ada, pilar dan pengimaman dengan tulisan nama-nama Sahabat Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar as Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dua makam di samping kiri juga sudah dipindah dan kini ditutup keramik,'' ungkapnya.

Menurutnya, mushala itu pernah hilang namun kemudian ditemukan lagi sekitar 1967. Saat ditemukan kondisinya sangat memprihatinkan. Tersembunyi di antara gedung-gedung tinggi. Pada 1993 banguan kuno itu direhab. Selama Ramadan, Masjid Annur melakukan kegiatan hampir sama dengan masjid-masjid lain, yaitu shalat Tarawih dan tadarus.

( Nurul Muttaqin / CN26 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
image
26 Juli 2014 | 15:46 wib
Dibaca: 1171
image
26 Juli 2014 | 13:32 wib
Dibaca: 284
25 Juli 2014 | 19:24 wib
Dibaca: 6347
image
24 Juli 2014 | 14:08 wib
Dibaca: 684
image
23 Juli 2014 | 22:44 wib
Dibaca: 378
image
23 Juli 2014 | 19:12 wib
Dibaca: 1554
image
23 Juli 2014 | 18:58 wib
Dibaca: 253
image
22 Juli 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 270
22 Juli 2014 | 15:09 wib
Dibaca: 299