image

Foto: suaramerdeka.com / dok

20 November 2017 | 11:10 WIB | Cabang Olahraga

Ricuh, Kejuaraan Taekwondo Internasional Dihentikan

SLEMAN, suaramerdeka.com- Kericuhan mewarnai pelaksanaan Kejuaraan Taekwondo Internasional yang memperebutkan Piala Raja Kraton Yogyakarta di Gedung Olahraga (GOR) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sleman, semalam. Akibatnya, even yang diinisiasi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) tersebut harus berhenti setelah keadaan pertandingan terus memanas.

Informasi yang dikumpulkan Suara Merdeka menyebutkan, kericuhan bermula ketika lebih dari separuh peserta memprotes panitia karena belum bertanding. Turnamen dihentikan karena wasit melakukan walkout (WO) pada pukul 18.00. Hal ini dibenarkan salah seorang peserta Sunu Arif. Sunu yang berasal dari Kaltara (Kalimantan Utara) mengatakan komisi perwasitan melakukan WO dan pertandingan dihentikan. Hal itu lalu berimbas ke pertandingan.  "Padahal banyak yang belum bertanding," ungkap Sunu, Minggu (19/11) malam.

Protes keras pun dilakukan beberapa tim kepada panitia. Tak terima atas jawaban kurang memuaskan panitia, beberapa di antara peserta mengamuk. Kursi-kursi serta arena pertandingan dirusak. Tampak sejumlah spanduk juga dirobek.

Sunu menambahkan, Pengurus Besar (PB) Taekwondo Indonesia (TI) hanya merekomendasikan pertandingan sampai pukul 18.00. Sementara peserta yang mencapai 1.500 orang itu banyak yang belum bertanding.  "Tidak memenuhi standar. Karena yang harusnya dua hari dipadatkan jadi sehari. Peserta protes ke panitia," ujar Sunu yang mengaku turut membawa 40 anak untuk bertanding pada even tersebut.

Karena banyak yang belum bertanding sementara kejuaraan dihentikan, peserta menuntut pengembalian akomodasi berupa penginapan, makan, transport selain uang pendaftaran. Seperti Sunu, dia mengaku hampir menghabiskan dana Rp 200 juta.  "Kalau uang pendaftaran Rp 250 ribu per peserta," klaim Sunu.

Peserta lainnya, Reza Saputra menambahkan pertandingan dihentikan karena ada kericuhan masalah pertandingan tidak jelas.  "Kami kecewa jauh dari Medan tidak sempat bertandingan. Ya mudah-mudahan kalau ada lagi bisa lebih baik," sambung peserta asal Medan tersebut.

Sementara itu salah seorang perwakilan PB TI yang juga anggota komisi perwasitan PB TI Ferdiansyah mengatakan, kejuaraan tersebut tidak sesuai Standar Operational Prosesure (SOP) PB TI. Berkaitan dengan jumlah peserta, bagan pertandingan dan waktu pelaksanaan yang tidak bisa lebih dari pukul 18.00. Dia sendiri menyayangkan adanya kejadian tersebut karena awalnya berharap even itu dapat menjadi proyek percontohan dalam hal sebuah perguruan tinggi menggelar kejuaraan taekwondo internasional.

"Ini sudah kami laporkan ke PB TI. Padahal karena internasional, persiapan sudah dilakukan sebaik mungkin. Ada 10 arena kami sediakan," tandas pria yang bertugas sebagai team delegate (TD) dari PB TI tersebut.

(Gading Persada /SMNetwork /CN26 )