|
|
|
|
| |
|
|
|
HIBURAN & SENI
25 November 2008
Terpaku dalam Brubuh Ngalengka
PUKUL 21.15, Ki Purba Asmara baru saja bedol kayon. Tapi setelah itu, kelir sudah sedemikian hidup dan dimanis. Dan lihatlah, medan pakeliran itu langsung riuh saat lakon Brubuh Ngalengka baru dimulai.
Akhirnya, perang itu memang terjadi. Perang jangkaning jagad yang disebut dengan Palwagakala (setara dengan Guntarayana, Saradan, Gojalisuta dan Baratayudha).
Sementara, setelah bangun dari tidur panjangnya, Kumbokarno masih tak henti mengingatkan Rahwana. Meski itu nyaris terlambat setelah adiknya Sarpakenaka dan pamannya, Prahastha pralaya.
”Kakang Rahwana, butuh berapa nyawa lagi untuk menebus perangmu itu. Sudah, cukupkan sampai di sini Kakang. Kembalikan Dewi Sinta,” kata Kumbokarno.
Alih-alih mendengarkan, dengan menggelegar Rahwana justru menjawab dengan umpatan. Tak cukup hanya di mulut, kakinya juga ikut marah hingga Satriya Panglebur Gangsa itu jatuh terjengkang. Paseban kerajaan Alengka terasa panas.
”Aku tak sudi memiliki adik yang jirih getih seperti itu. Di mana darma kesatriyamu Kumbokarno?,” hardik Rahwana kemudian.
Itulah titik puncaknya. Itulah saat Kumbokarno semakin tak mengerti dengan apa yang ada di benak kakaknya. Pada kondisi yang demikian, siapa pun tentu akan menaruh kebencian kepada Rahwana. Tapi ketika malam semakin larut, nyatanya Rahwana tak sekadar bengis.
Tentang Kebenaran
Sebelum naik ke panggung, Ki Purba Asmara sempat berkata jika ia selalu tak ingin membatasi setiap pakelirannya. Itu juga yang dilakukannya ketika membabar lakon Brubuh Ngalengka yang dipentaskan di Sasana Mulya, kawasan Keraton Surakarta, Sabtu (22/11) malam lalu. Sebuah pergelaran wayang yang boleh dikata sangat memikat.
”Apa yang terjadi di panggung terjadilah. Biarlah semuanya mengalir begitu saja,” kata dalang asal Kampung Gebang, Kelurahan Kadipira, Kecamatan Banjarsari Solo tersebut.
Dengan cara yang seperti itu, penonton justru serasa tak ingin mengalihkan pandangan dari kelir karena di setiap adegan nyaris selalu membuat mereka duduk terpaku. Sebab di tangan sang ”dalang priyayi” itu, lakon tak sekadar bicara persoalan pertikaian antara Ramawijaya dengan Rahwana demi seorang perempuan bernama Dewi Sinta.
”Jika Engkau memandang ini hanya persoalan birahi, itu salah besar. Lupakah Engkau bila Sinta itu titisan Widowati? Lalu apakah salah jika aku berusaha mewujudkan keinginan untuk bisa meraih berkah anjayeng bawana dari Widowati?,” kata Rahwana sebelum ajalnya menjemput di tangan sang Rama.
Begitulah, hingga tancep kayon, Ki Purba bagai terus menyihir penontonnya. Meski kemudian ia juga tak ingin membuat penikmatnya terus-terusan serius. Pada adegan tertentu, terutama dalam Limbukan dan Gara-Gara, ia tak lupa mengendurkan syaraf penonton.
Apalagi malam itu ada Mega Safitri, bocah yang baru kelas III SD namun sudah memiliki kemampuan lebih sebagai sindhen sekaligus pelawak. Oleh bocah itu, terkadang Ki Purba sampai dibuat ”mati kutu” dan tersipu.(Wisnu Kisawa, Subakti A Sidik-45) |
|
|
|
|
|
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved |
|
|