Berita Aktual  SM Cetak  Suara Warga  Entertainmen  Gaya  Kejawen  Layar  Lelaki  Sehat  Sport  Wanita  Surat Pembaca
 
 
WACANA

24 September 2008
GAGASAN
Kepodang, Identitas Jateng

Burung Kepodang yang dalam bahasa latin disebut Oriolus Chinensis adalah burung yang cukup dikenal masyarakat khususnya di Jateng. Dalam buku Flora dan Fauna Nusantara, Bahrudin S dan Zamzami menulis burung tersebut bagi masyarakat Jawa melambangkan kekompakan, keselarasan dan keindahan budi pekerti sekaligus juga melambangkan anak atau generasi muda.

Karena dekatnya burung ini dari nilai-nilai kebajikan yang selaras dengan budaya Jawa maka ditetapkanlah sebagai fauna identitas Jateng. Burung ini mempunyai suara nyaring, siulannya keras berirama merdu. Penduduk Jabar menyebutnya Bincarung, di Sumatra mendapat sebutan Gantialuh, sedang di Sulawesi menyebut Gulalahe.

Dalam bahasa Jawa, Kepodang dikenal dengan sebutan manuk pitu wolu karena bunyinya yang nyaring mirip dengan ucapan pitu-wolu (tujuh delapan). Makanan utamanya pisang, papaya, serangga kecil dan biji-bijian. Extra fooding-nya berupa ulat bumbung dan ulat pisang. Panjang burung dari ujung paruh sampai dengan ekor sekitar 25 Cm.

Paruhnya berwarna merah muda, bulu kuning keemasan sedang bagian kepala,sayap dan ekor ada sebagian bulu yang berwarna hitam. Kebiasaan hidupnya berpasangan. Sarangnya berbentuk bulat diletakkan pada ranting kayu dengan telur 2 butir. Penyebarannya meliputi P Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Kalau orang Jawa punya klangenan burung anggungan yaitu Perkutut, barangkali untuk burung ocehan yang paling pas adalah Kepodang. Sebab selain kelihatan elok, burung ini juga mendapat sebutan burung pesolek. Burung ini terkenal suka bersih dan rapi dengan bulu yang indah dan menawan.

Klangenan sekadar untuk rungon-rungon, anggungan Perkutut dan ocehan Kepodang konon bisa menjadi terapi jiwa bagi pemiliknya. Selain ocehannya sangat keras dan nyaring, Kepodang juga pandai menirukan suara burung Ciblek, Prenjak, Penthet bahkan suara burung Tengkek alias Raja Udang.

Ukuran sangkar yang cocok untuk kepodang adalah 50X60 Cm. Harga bakalan sekitar Rp 125.000/ekor. Tetapi bila sudah pandai berkicau melambung hingga Rp 300.000. Perawatannya mudah, tiap pagi cukup disemprot dengan jet spray dan dijemur dari pukul 07.00-10.00. Usia kepodang relatif lama yaitu 25-30 tahun.

Habitat aslinya di daerah dataran tinggi, hutan, terutama di daerah tropis dan subtropis. Di Jateng, burung ini masih bisa dijumpai di Kecamatan Boja, Limbangan, Singorojo, Magelang, Temanggung, Sukoharjo dan Wonogiri.

Secara alami populasi di alam bebas jauh berkurang. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya wilayah hutan dan gangguan satwa pemangsa serta manusia.
Selain cocok dijadikan klangenan, burung ini sering digunakan untuk keperluan mitoni (tradisi tujuh bulan kelahiran anak pertama). Konon menurut kepercayaan orang Jawa, calon ibu yang memakan daging Kepodang kelak akan melahirkan anak yang ganteng atau cantik jelita.

Kepercayaan tersebut sampai sekarang ternyata masih juga dilakukan para ibu muda yang sedang hamil tujuh bulan. Bahkan burung jantan yang mulus baik bulu sayap maupun ekornya, orang berani membayar lebih mahal lagi.

Hari Yudhotomo
Gentan Kidul RT2/RW4 Boja, Kendal

Vote Getter, Money Getter

Ketika pilihan rakyat tidak menentukan lagi karena semua ditentukan partai, mulailah terjadi kerusakan sistem. Kepercayaan pemilih bisa dikesampingkan hanya karena si vote getter tidak mampu membayar untuk nomor jadi. Menjadi wakil rakyat hal yang luar biasa sulitnya. Bukan karena tuntutan menguasai permasalahan pemilih, memberi pemecahan dan jalan keluar.

Kesulitan terjadi karena gedung wakil rakyat saat ini bukan ajang untuk mengedepankan nurani. Juga bukan tempat yang tepat rnendengar suara hati apalagi untuk mendeteksi cahaya lentera jiwa. Tapi segenap upaya dicurahkan berdasarkan kalkulasi untung rugi secara materi.

Menyadari betapa sulit dan mahalnya meraih jabatan terhormat, kerakusan akhirnya menjadi fokus agar secara pribadi tidak rugi. Setelah menjadi orang terhormat, menjelmalah menjadi money getter. Dari persuasi, manipulasi hingga intimidasi penuh ”kreasi”, jadilah pendulang uang piawai. Kuras semua.

Maka jargon untuk mengatasi demam berdarah juga berlaku yaitu menguras/menggali dan menutup rapat semua kerakusan yang dilakukan secara sistematis. Diiringi ritual fit and proper test, interpelasi dan membuat RUU, akhirnya malah mabuk. Kalau pemain kuda lumping kerasukan dengan menari hingga makan beling, maka orang yang kerasukan tersebut ke sana ke mari cari komisi.

Kerasukan akhirnya berakibat lupa (jati) diri. Tak cukup hanya itu semua. Di antara mereka ketahuan punya simpanan. Tahu track record dan program karya calon pemimpin, calon wakil rakyat datang,  sangat penting agar masya-rakat bisa selektif memilih calon pemimpinnya. Ayo bangkit dan majulah Indonesia.
Purnomo Iman Santoso (El)

Villa Aster Blok G/10 Srondol, Semarang

Tentang Kebahagiaan

Saya tertarik dengan tulisan Bapak Amar Makruf  yang menulis di Surat Pembaca 1 September 2008 berjudul ”Kebahagiaan, Kapan?”.
Kebahagiaan yang benar dan nyata adalah hidup di dalam kesadaran ”kekinian dan kedisinian ” (living in the here nowness). Manusia yang berjiwa netral adalah yang menanggalkan masa lampau dan akan datang, sehingga terlepas dari rasa takut, khawatir dan waswas.

Sebab orang yang dirundung rasa khawatir pasti ”mengkhawatirkan peristiwa masa lalu”. Bila merasa waswas dan takut berarti ”takut kepada hal yang akan datang”. Sedangkan kini dan di sini mengandung kenyataan realistik ada, serta diterima meski belum tentu berkenan di hati, karena apa pun dan siapa pun tak dapat mengubahnya.

Di samping itu, harus selalu introspeksi diri (mawas diri), mengenal dirinya sampai tuntas, mengerti semua rasa yang terdapat dalam dirinya tanpa kecuali.
 Dalam kebatinan Jawa disebut ngrucat, dalam filsafat Inggris disebut selfstripping. Akhirnya mengenal pribadi sesama manusia sehingga menemukan ”rasa sama” (raos sami, rasa perikemanusiaan).

Mawas diri bisa digunakan untuk menjawab berbagai problema, jelek atau baik selalu dihadapi dengan berani, tak gentar melawan diri sendiri seperti adanya, sehingga terbentuklah ”manusia baru”. Manusia bahagia berjiwa sehat, tidak tergantung dengan tempat, zaman dan keadaan.

RM Ismunandar C
Salatiga Permai VI/140-141, Salatiga
© 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved
Groups