21 Oktober 2017 | Suara Banyumas

Permenhub Diharapkan Jadi Jalan Tengah

  • Akhiri Konflik Transportasi Online

PURWOKERTO-Terbitnya Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 26 Tahun 2017, yang direncanakan berlaku efektif per 1 November mendatang, disambut baik Pemkab Banyumas.

Setelah diberlakukan resmi, aturan baru tersebut diharapkan menjadi jalan tengah mengakhiri konflik antara transportasi konvensional dengan transportasi online yang terjadi di berbagai daerah, termasuk di Purwokerto. Kepala Dinas Perhubungan (Dinhub) Banyumas Sugeng Hardoyo mengatakan, pihaknya tengah mempelajari Pemenhub yang bakal berlaku pada 1 November mendatang.

Kebetulan saat perwakilan dari Banyumas datang ke Kemenhub, dari kementerian tersebut juga sudah menerbitkan peraturan baru, setelah ada keputusan MA beberapa waktu lalu. ”Dari hasil analisis yang kami lakukan terhadap aturan tersebut, sepertinya sudah menjadi jalan tengah untuk memutus konflik antara transportasi konvensional dengan online (darling).

Dalam Permenhub itu, untuk transportasi online ada aturan khusus yang harus dipenuhi dan ditaati," katanya, Jumat (20/10). Sebab, kata Sugeng, hal-hal itulah yang kerap menjadi pemicu konflik antara transportasi konvensional dengan daring. Setelah kedua pihak bisa mencermati terkait ketentuan-ketentuan tersebut, maka saat bersinggungan di lapangan saat melayani konsumen atau penumpang, harusnya bisa dihindari ”Setelah Permenhub keluar ini tentu bakal diikuti dengan peraturan di tingkat provinsi, kemudian ditarik ke daerah.

Kalau sekilas membaca peraturan tersebut, saya kira bisa menjadi jawaban sehingga tidak memunculkan konflik lagi," harapnya. Aturan khusus untuk pelaku transportasi online, lanjut dia, seperti harus menempelkan stiker pada mobilnya. Selain itu, pemilik transportasi online tidak bisa sendiri, melainkan membentuk semacam koperasi dengan minimal lima mobil. Yang tak kalah penting adalah penentuan tarif batas bawah.

Jika ketentuan-ketentuan tersebut dijalankan, nilai dia, maka akan terjadi persaingan yang sehat dan bisa saling menghargai, bahkan bisa saling bergabung, khususnya yang konvensional masuk ke online untuk memenuhi tuntutan pasar. Dengan adanya aturan semacam itu, prediksi dia, jumlah pemilik transportasi online semakin sedikit. ”Misalnya ada orang yang sebelumnya iseng ikut setelah kerja, apakah dia akan mau menempelkan stiker pada mobilnya. Itu baru salah satu contoh saja," katanya.

Dia meyakini, setelah berjalan pasti ada titik temu antara transportasi konvensional dengan online, terutama soal batas bawah tarif. Selama ini, memang yang terjadi ada selisih cukup signifikan antara yang konvensional dengan online, sehingga menjadi salah satu pemicu, pelaku transportasi konvensional protes (demo).(G22-46)

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI