14 Oktober 2017 | Spektrum

Jalan Panjang Catalan Menuju Kemerdekaan

MESKIpada referendum 1 Oktober lalu, lebih dari 90 persen pemilih memilih merdeka bukan serta merta Catalan bisa langsung memisahkan diri dari Spanyol.

Pasalnya, selain jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih hanya sekitar 43 persen, banyak pihak di Spanyol menolak hasil plebisit tersebut. Kenyataan tersebut membuat pemimpin Catalan Carles Puigdemont agak ragu. Dalam sidang parlemen, Selasa (10/10) waktu setempat, Puigdemont menandatangani dokumen deklarasi kemerdekaan pada Selasa (10/10) malam.

Namun kemudian, dia minta parlemen menunda penerapan deklarasi kemerdekaan itu agar dapat membuka dialog dengan pemerintah pusat. Spanyol mengancam akan menangguhkan otonomi Catalan jika daerah itu benar-benar memisahkan diri dari Madrid. Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy bersumpah akan melakukan apa pun untuk mencegah pemisahan diri Catalan.

Sementara itu, aksi ”Catalan adalah Spanyol” juga terus dilancarkan di Madrid, dan sejumlah kota lain di Spanyol, termasuk di antaranya Barcelona, yang merupakan ibu kota Catalan. Tak kurang dari 350 ribu pengunjuk rasa turun ke jalan utama di Barcelona, Senin (9/10). Seperti dilansir dari Reuters, ribuan warga Catalan menolak upaya pemisahan diri dari Spanyol.

Mereka ingin Catalan rujuk kembali dengan Spanyol. Namun, proses rujuk ini bisa dipastikan tidak akan mudah. Krisis Catalan merupakan keadaan darurat politik Spanyol yang paling serius sejak kembali ke demokrasi empat dekade yang lalu. Para pemimpin dunia mencermati dengan seksama krisis yang telah merusak kepercayaan bisnis tersebut. Selain faktor ekonomi, Spanyol dan Catalan memang memiliki sejarah panjang yang membuat keduanya sulit untuk disatukan. Sejak awal abad pertengahan, penduduk Catalan telah menganggap negara mereka memang terpisah dari Spanyol.

Terletak di ujung timur laut Spanyol, Catalan terkesan ”terpisah” dari Negeri Matador lantaran dibatasi Pegunungan Pyrenean yang membentang dari Prancis bagian selatan. Catalan bahkan memiliki hubungan historis yang lebih dekat dengan Prancis. Catalan kali pertama dikenal dengan keberadaan County of Barcelona di Semenanjung Iberia. Sekitar abad ke-11, Barcelona memperoleh keistimewaannya.

Masyarakat di sana memiliki bahasa, hukum, dan budaya sendiri, berbeda dari Spanyol. Pada 1150, pernikahan Ratu Aragon, Petronilia, dengan Pangeran Barcelona, Ramon Berenguer IV, membuat dua wilayah itu bersatu. Tak lama, dinasti tersebut menjadi kekuatan besar di abad pertengahan lantaran armada lautnya yang terkenal kuat.

Kembalikan Identitas

Catalan menjadi bagian dari Spanyol sekitar awal abad ke-15 setelah Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella dari Kastilia menikah. Sejak saat itu, Catalan semakin terintegrasi dengan Spanyol dan ”terpaksa” kehilangan identitas aslinya sebagai warga Catalan.

Pada awal abad ke-19, keinginan untuk mengembalikan identitas sebagai masyarakat Catalan terus mencuat, mulai dari kampanye otonomi politik hingga aksi-aksi separatisme. Upaya untuk menghidupkan kembali Catalan juga dilakukan melalui bahasa dalam karya sastra. Saat Spanyol menjadi republik pada 1931, Catalan diberi otonomi luas. Selama Perang Saudara Spanyol, Catalanbahkan menjadi benteng utama negeri itu. Namun, jatuhnya Barcelona ke tangan Jendral Francisco Franco pada tahun 1939 membuat perlawanan Spanyol juga berakhir.

Awan tebal menaungi Catalan selama pemerintahan ultra-konservatif Franco berkuasa. Otonomi Catalonia dicabut, nasionalisme warganya ditekan, dan penggunaan bahasa Catalan juga dilarang. Catalan diberi otonomi pada 1977 setelah Franco meninggal dan demokrasi Spanyol kembali tegak berdiri. Sebagai wilayah ”Generalitat”, warga Catalan bahkan mendapatkan otonomi yang lebih luas, yakni berhak memiliki unsur eksekutif dan legislatif sendiri.

Semangat nasionalisme warga Catalan berkobar pada Juli 2010 saat Mahkamah Konstitusi Spanyol menganulir sebagian undang-undang otonomi 2006 sekaligus membatasi keinginan Catalan untuk menjadi negara sendiri. Presiden Catalan saat itu, Jose Montilla, menganggap keputusan ini ìmenyerang martabat publik Catalanî. ”Hanya inisiatif politik yang kuatlah yang akan menjawab ketidakpuasan, dan yang bisa menata kembali hukum dan konstitusi,” ujar Montilla saat itu.

”Masyarakat Catalan tidak bisa dibungkam, karena kami adalah sebuah bangsa. Saya juga tidak percaya masyarakat Spanyol menutup mata mereka.” Krisis ekonomi di Spanyol kemudian memperbesar keinginan warga Catalan untuk bercerai dari Spanyol lantaran menganggap Catalan menyumbang devisa terlalu besar sementara yang mereka dapatkan tidaklah seberapa.

Sejak saat itu, hubungan kedua belah pihak terus memanas dan mencapai titik kulminasi pada 1 Oktober lalu dengan bergulirnya jajak pendapat atau referendum kemerdekaan Catalan yang berakhir ricuh. Namun, Madrid menolak referendum itu, menjadikan kedua wilayah itu kembali bersitegang.

Seperti diberitakan AFP, PM Spanyol bahkan dikabarkan menolak berdialog, kendati pada Rabu (11/10) presiden Catalan mengaku siap berdialog. Krisis politik di Spanyol pun tak terhindarkan, bahkan kini merembet ke sektor ekonomi. Sebagai jantung industri Spanyol, krisis yang terjadi di Catalan begitu ampuh melimbungkan sektor ekonomi negara tersebut. Catalan merupakan wilayah terkaya di Spanyol dengan menyumbang 19 persen dari PDB Spanyol. Kontribusi ini dua kali lebih besar dari kontribusi Skotlandia kepada Inggris. Sumbangsih Catalan hanya kalah dibanding Madrid sebagai ibukota dan Basque serta Navarre.(Nurul Muttaqin-23)

Berita Lainnya