12 Oktober 2017 | Edukasia

AKADEMIKA

Meningkatkan Aktivitas Fisik

  • Oleh Hilmi Zadah Faidullah

KEHIDUPANmasyarakat Indonesia 20-30 tahun lalu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu, sebagian besar beraktivitas fisik, tetapi kini lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan tertentu yang membutuhkan waktu lama; di tempat kerja, di rumah, di mobil, dan di mana saja. Perubahan tersebut memiliki efek ganda pada perilaku yang membuat lebih sedikit bergerak dan banyak duduk.

Jika menelisik dari perspektif evolusioner, manusia pada hakikatnya (sunnatullah) dirancang untuk bergerak, mencari, dan senantiasa terlibat dengan segala bentuk aktivitas secara manual sepanjang hari selama kehidupannya.

Itu menjadi hal penting untuk menjamin kelangsungan hidup manusia sebagai spesies. Pergeseran yang akhir-akhir ini terjadi dalam kehidupan manusia yang menuntut keterbatasan aktivitas fisik dalam lingkungannya, terjadi secara tiba-tiba dan akan menjadi ancaman baru terhadap peningkatan angka kematian.

Sebuah friksi kecil yang tidak disadari oleh banyak manusia dan perlahan dapat mengganggu eksistensi manusia sebagai spesies bebas yang aktif. Melihat indikator sosial berupa pengeluaran energi yang berkurang pada manusia dan peningkatan kebiasaan malas gerak di AS beberapa dekade terakhir, ditemukan hasil sangat mencolok.

Mulai data 1970 menunjukkan 2 dari 10 orang AS bekerja dalam pekerjaan yang hanya membutuhkan aktivitas ringan (didominasi duduk di meja kerja), sedangkan 3 dari 10 orang berada dalam pekerjaan yang membutuhkan keluaran berenergi tinggi; misalnya konstruksi, manufaktur, dan pertanian. Pada 2000, empat dari 10 orang dewasa berada dalam pekerjaan dengan aktivitas ringan, sedangkan dua dari 10 orang berada dalam pekerjaan dengan aktivitas tinggi.

Selain itu, 20 tahun terakhir total waktu kontak manusia dengan layar monitor, contohnya menggunakan komputer, menonton televisi, dan bermain game video, telah meningkat secara dramatis. Pada 2003, hampir enam dari 10 orang dewasa yang bekerja menggunakan komputer di tempat kerja dan sembilan dari 10 anak-anak menggunakan komputer di sekolah (taman kanakkanak sampai kelas 12).

Profesional Fisioterapi

Para ilmuwan terus mempelajari dampak buruk penurunan aktivitas fisik. Telah terungkap kondisi yang kompleks melibatkan hubungan multifaset antara pekerjaan fisik, pengeluaran energi, dan kesehatan. Penelitian klinis dan dasar telah difokuskan pada manfaat menggabungkan latihan rutin ke dalam kehidupan modern sehari-hari untuk menyesuaikan diri sampai batas kehilangan aktifitas fisik mengembalikan seperti dahulu dicontohkan nenek moyang.

Rekomendasi kesehatan pada publik saat ini mengusulkan setidaknya 150 menit per minggu aktifitas fisik moderat-kuat untuk membantu pencegahan dan mengelola beberapa kondisi kronis, terutama penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, dan kanker. Basis bukti yang mendukung rekomendasi latihan itu cukup besar.

Fisioterapi profesional bekerja dengan semua orang pada semua tingkatan umur untuk mengoptimalkan aktifitas fisik mereka, mulai atlet hingga orang tua yang ingin tetap aktif seiring dengan pertambahan usia. Lebih dari profesi lainnya, fisioterapi juga memiliki program pencegahan penyakit kronis dengan membantu orang menjadi lebih aktif dan tetap selalu aktif. Latihan membantu banyak orang yang mengalami osteoporosis.

Fisioterapi profesional diharapkan menjadi pemimpin dalam mewujudkan ”negara yang sehat adalah negara yang aktif”, dimulai dari ”kota yang sehat adalah kota yang aktif” yang diwujudkan lewat pembuatan panduan perencanaan aktivitas fisik.(17)

Hilmi Zadah Faidullah,Laboratorium Biomekanika dan Ergonomi, Departemen Fisioterapi Universitas Aisyiyah Yogyakarta