12 Oktober 2017 | Suara Kedu

Empat Bangunan Cagar Budaya Direvitalisasi

PURWOREJO- Pemkab memugar empat bangunan cagar budaya yang ada dalam satu kompleks markas Kodim 0708/ Purworejo di Jalan Urip Sumohardjo, dalam dua kegiatan di tahun anggaran 2017 dan 2018. 

Anggaran untuk perbaikan bangunan peninggalan Belanda yang dijadikan rumah dinas itu senilai Rp 1.721.591.000.

Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayan Purworejo sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Winanto, pengerjaan hanya meliputi perbaikan bangunan utama dan tidak melakukan perbaikan di bangunan pendukung yang ada di belakang bangunan utama.

Adapun bangunan pendukung yang ada di belakang meliputi selasar, dapur dan kamar mandi. “Tahun ini kami fokus ke bangunan utama hingga megar payung (memberi penutup atas), lainnya tidak.

Kegiatan selanjutnya tahun depan yakni pengerjaan kusen-kusen baik jendela maupun pintu serta bagian lantai,’’ kata Winanto. Lebih lanjut, keempat bangunan tersebut dibangun sekitar 1931.

Sebelum dilakukan pengerjaan preservasi/penyelamatan heritage dilakukan kajian oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Pihak perencana pun harus mengikuti hasil kajian. Dalam mengembalikan bentuk asli heritage itu tidak bisa sembarangan.

Pun dalam mencampur semen dan pasir. “Bangunan ini tidak terlalu berat karena beberapa persyaratannya tidak harus menggunakan bahan seperti aslinya,” imbuh Winanto.

Target Penyelesaian

Jika dinding yang sebelumnya menggunakan campuran pasir kali, tumbukan bata dan gamping, dalam pengembalian bentuk ini akan menggunakan campuran semen dan pasir. Demikian halnya dengan konstruksi kayu di bagian atas tidak menggunakan kayu rasamala, tetapi diganti kayu bengkirai.

“Intinya kami hanya mengembalikan ke bentuk aslinya meskipun bahannya tidak sama dengan yang digunakan untuk bentuk aslinya dulu,” imbuh Winanto. Terkait dengan waktu pengerjaan yang cukup mepet, pihak pelaksana akan melakukan lembur untuk mengejar target penyelesaianya.

Sementara itu, pengawas penyelamatan bangunan cagar budaya dari CV Winila Karya Yogyakarta, Subekti Prasetyo mengatakan, proses pengerjaan dituntut kehati-hatian. Bangunan tersebut menggunakan bata tunggal yang ukurannya berbeda dengan batu bata sekarang.

“Kalau sekarang ukuran bata yang sering digunakan itu 15x12 sentimeter, tapi bata di bangunan ini 15x10 sentimeter. Jadi kita memang harus pesan dulu untuk menggantikan batu bata yang tidak bisa digunakan lagi,” kata Bekti didampingi pelaksana kegiatan Basuki Agus Vianto dari CV Vicayasa Sleman.(K5-26)