07 Oktober 2017 | Spektrum

Penantian Seratus Tahun

SEBUAHkeputusan politik telah diambil warga Kurdi di Irak. Dalam sebuah referendum yang digelar pada 25 September lalu, mereka resmi menginginkan kemerdekaan, yang juga berarti melepaskan diri dari Irak dan membentuk negara sendiri. Presiden Pemerintah Regional Kurdistan (KRG), Massoud Barzani, mengakui bahwa referendum adalah jalan yang berbahaya sekaligus berisiko. Namun, dia menegaskan siap menanggung risiko tersebut. “Kami siap. Ini demi kemerdekaan kami,” ungkapnya seperti dikutip dari Reuters. Tak hanya Barzani, sejumlah warga Kurdi yang menginginkan kemerdekaan juga paham betul risiko yang kemungkinan bakal mereka hadapi seandainya memilih melepaskan diri dari Irak. “Kami telah menunggu selama 100 tahun untuk hari ini,” ungkap seorang warga di Arbil, Irak bagian utara.

Sekian lama warga Kurdi merasa menjadi warga kelas dua di mana pun mereka berada. Hal ini menjadikan keinginan untuk merdeka begitu kuat. Mereka ingin kembali mendirikan Tanah Kurdistan yang sekitar seabad lalu menjadi tanah kelahiran mereka. Hingga saat ini warga Kurdi menjadi etnis bangsa terbesar yang telah kehilangan kewarganegaraan sejak Inggris dan Prancis memenangi Perang Dunia I. Setidaknya ada 30 juta warga Kurdi di dunia sekarang ini. Secara mayoritas, warga Kurdi tersebar di empat negara, yakni Irak, Iran, Turki, dan Suriah. Namun, ada juga sebagian kecil dari mereka yang menyebar di sejumlah negara di Asia Barat dan bahkan Eropa. Puluhan tahun warga Kurdi menderita persekusi secara verbal dan fisik. Menjadi korban konflik Timur Tengah, terancam genosida pada masa Saddam Hussein di Irak, dan menjadi korban kekejaman IS.

Belum lagi dengan adanya perang sipil di Suriah, mereka juga turut menderita. Tak sedikit yang mengatakan bahwa warga Kurdi adalah etnis paling tidak beruntung di dunia. Lokasi yang strategis secara geopolitik serta keberadaan sumber minyak dalam jumlah besar dan lengkap dengan jalur pipanya menuju Eropa dan Israel, membuat keinginan warga Kurdi untuk menjadi bangsa independen kian sulit terwujud.

Terisolasi

Menilik sejarah warga Kurdi, kemerdekaan sebenarnya pernah dijanjikan oleh Presiden AS, Woodrow Wilson. Melalui Perjanjian Sevres pada 1920, Kekhalifahan Turki Usmani dengan Sekutu sepakat berbagi wilayah bekas kekuasaan Turki Usmani. Namun, berdirinya negara Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk yang meliputi sebagian besar Kurdistan memupus harapan warga Kurdi tersebut.

Setelah kemerdekaan Irak tahun 1932 bangsa Kurdi semakin terisolasi dan terpecah- pecah. Mereka yang mendiami daerahdaerah perbatasan ini selalu menjadi korban pertikaian antara Irak, Iran, dan Turki. Penduduk Kurdi di Irak bahkan justru harus rela menjadi bagian dari Irak. Warga Kurdi di Iran, Suriah, dan Turki, juga sama, menjadi satu sebagai warga negara tempat mereka berdiam. Awan gelap kian menyelimuti warga Kurdi di Irak saat Saddam Hussein naik takhta. Sekitar 1980-an, pemimpin yang dilengserkan melalui invasi Irak pada 2003 ini sempat menggelar operasi militer untuk menumpas warga Kurdi.

Berdasarkan laporan Human Rights Watch, setidaknya ada 100 ribu orang Kurdi yang dibunuh, serta ratusan ribu lainnya terusir lantaran desa mereka diratakan dengan tanah. Keruntuhan era Saddam Hussein menjadi berkah bagi warga Kurdi. Perjuangan untuk memiliki daerah sendiri yang terpisah dari wilayah Irak seolah menemui titik terang. Pada 2005, warga Kurdi memutuskan untuk menggelar referendum.

Hampir seluruh warga Kurdi di Irak atau 98,8 persen dari me reka menginginkan wilayah Kurdi terpisah dari Irak. Berdasarkan referendum 2005, wilayah otonom pemerintah daerah Kurdi pun berdiri dengan nama Pemerintah Regional Kurdistan (Kurdistan Regional Government/ KRG) dan diakui secara konstitusi oleh Baghdad.

Daerah otoritas resmi KRG meliputi Dohuk, Arbil, Sulaimaniya, dan Halabja. Sebagai wilayah otonom, warga Kurdi di Irak memiliki parlemen sendiri. Mereka juga memiliki angkatan bersenjata bernama Peshmerga. Arbil dipilih sebagai ibu kota KRG, dan dipimpin oleh Presiden Massoud Barzani serta wakilnya Kosrat Rasul Ali. Saat ini, melalui referendum yang hasilnya menyatakan warga Kurdi menginginkan kemerdekaan dan menjadi bangsa independen, perjuangan mereka telah memasuki babak baru.(Nurul Muttaqin-42)

SMCETAK TERKINI