image

SM/Dok

19 Maret 2018 | Solo Metro

FIGUR

Semula Terpaksa, Sekarang Ahli

TEROMPETselalu berkesan di dalam hati Afie Suarsa. Betapa tidak, alat musik tiup tersebut kini menjadi salah satu alat musik yang biasa dimainkannya kendati awalnya lantaran terpaksa. ”Awalnya saya memegang (bermain) snare drum. Lalu oleh pelatih digeser menjadi pemain terompet,” kenang pelatih Marching Band Gita Pamong Praja Pemkot Surakarta ini. Saat itu, pria yang akrab disapa Opik ini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bandung.

Di sekolah itu juga, ia mengenal marching band untuk pertama kali. ”Kata orang, terompet itu sulit untuk dimainkan. Saat itu saya juga belum pernah memainkannya. Tapi oleh pelatih, saya dipaksa berlatih terus-menerus untuk persiapan lomba dua bulan ke depannya.” Seingat Opik, hasil latihan kerasnya tidak begitu mengecewakan. Sekalipun secara teknik, belum sepenuhnya benar. Penyuka makanan pedas ini berpendapat, hampir seluruh orang yang belum pernah memainkan terompet pasti akan mengalami kesulitan serupa. Tak terkecuali anggota Gita Pamong Praja. ”Waktu itu ada seorang aparatur sipil negara (ASN) yang mencoba meniup terompet, meski belum diajari teknik dasar. Karena tekanan tiupan yang cukup besar, dia kehilangan banyak tenaga dan langsung pusingpusing.

Meski hanya melakukan sekali tiupan,” tutur Opik.

Alhasil, pengalaman pribadi Opik saat belajar meniup terompet itu terus terbayang hingga kini. Bahkan dijadikannya bahan memotivasi puluhan ASN yang tergabung dalam Gita Pamong Praja. Kini, usai melatih Gita Pamong Praja selama tiga tahun terakhir, alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini berkeinginan membentuk tim yang kuat. Tak sebatas tampil dalam acara resmi, namun Gita Pamong Praja juga diharapkan bisa mengikuti kejuaraan tingkat nasional bersama marching band lain. Hal itu dianggapnya sebagai salah satu bentuk promosi bagi Kota Solo.(Agustinus Ariawan-20)

SMCETAK TERKINI