image

SM/Hendra Setiawan : KERUK SEDIMEN : Pekerja dengan menggunakan ekskavator melakukan pengerukan sedimen di dekat Jembatan Majapahit, kemarin. (38)

19 Maret 2018 | Semarang Metro

2 Juta M3 Sedimen Mulai Dikeruk

  • Normalisasi Banjirkanal Timur

SEMARANG TIMUR-Pekerjaan fisik normalisasi Banjirkanal Timur dimulai. Pekerja dengan menggunakan ekskavator, mulai mengeruk sedimen di beberapa titik aliran sungai tersebut.

Sekitar 2 juta m3 sedimen mulai diangkut dengan truk ke sejumlah lahan disposal yang telah disiapkan. Pada pekerjaan paket 3 (Jembatan Kartini-Jembatan Majapahit), pengerukan di dekat Jembatan Majapahit. Tanah diangkut untuk meninggikan lahan di Pasar Barito Baru, Penggaron, dan sekitar Jalan Jolotundo. Menurut rencana, tanah juga akan digunakan untuk meninggikan lahan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

’’Sedimen yang akan dikeruk di sepanjang sungai, sekitar 2 juta m3. Kami masih menunggu surat dari Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, untuk menaruh urukan tanah ke MAJT. Lokasi di Penggaron dan sekitar Jl Jolotundo sudah penuh,’’ ujar Kepala Satker Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJSA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali- Juana, Tesar Hidayat, kemarin.

Sementara untuk paket 2 (Jembatan Rel Kereta Api, Kemijen Semarang Timur-Jembatan Citarum, Sawah Besar Gayamsari), pengerukan dilakukan di dekat Jembatan Citarum. Tanah hasil pengerukan ditempatkan di sekitar Pasar Waru Indah. Sedangkan tanah pengerukan untuk paket 1 (Muara di Keluarahan Tanjungmas, Semarang Utara-Rel Kereta Api), rencananya ditempatkan di sisi timur muara sungai. Lahan seluas 60 hektare milik PT Pelindo III berada di Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara. ’’Nantinya, jarak antara tanggul kanan dan kiri sekitar 150 meter, dari muara yang berada di Tanjungmas, Semarang Utara, hingga Jembatan Majapahit, Gayamsari. Tiga paket dilaksanakan bersama-sama, di titik-titik yang sudah siap,’’tambah Tesar Hidayat.

Permasalahan Sosial

Sementara itu, Pj Sekda Kota Semarang, Agus Riyanto menuturkan, terkait permasalahan sosial normalisasi Banjirkanal Timur, tengah diurai satu persatu oleh pemkot. Mulai dari relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Barito, hingga pemindahan warga hunian terdampak normalisasi. Dia menambahkan, belum semua PKL mendapatkan tempat relokasi. Namun, tahun ini pemkot sedang membangunkan tempat tambahan di Pasar Barito Baru, Penggaron. Begitu juga dengan warga hunian terdampak normalisasi. Tempat yang ada saat ini, Rusunawa Kudu, belum cukup. ’’Tahun ini, Kementerian PUPR akan membangunkan lagi satu twinblock di Rusunawa Kudu. Ini untuk warga terdampak normalisasi yang belum dapat tempat. Jadi yang sudah mendapat tempat bisa pindah, sehingga tidak mengganggu normalisasi,’’ tambah Agus Riyanto.

Dari pendataan ulang, juga masih ada empat hektare lahan di daerah muara yang belum dibebaskan. Pembebasan pun akan segera dilakukan, dengan anggaran yang sudah ada.

Menurutnya, anggaran pembebasan lahan, bisa dialokasikan ke beberapa tempat. ’’Jadi, kami anggarkan pembebasan lahan dialokasikan secara global. Di antaranya untuk lahan di Mangkang, dan Mijen. Nantinya, sebagian anggaran itu bisa dialokasikan untuk membebaskan empat hektare lahan di sekitar muara Banjirkanal Timur. Untuk yang lain, dianggarkan lagi di APBD Perubahan,’’ tambahnya.(K18,daz-38)

SMCETAK TERKINI