18 Maret 2018 | Berita Utama

Jangan Sampai Jokowi Direpotkan Cawapres

JAKARTA- Dalam menentukan siapa Cawapres yang akan mendampinginya, Joko Widodo jangan sampai dalam posisi keberatan menggendong Cawapresnya. Demikian pendapat pengamat politik senior PARA Syndicate Fransiskus Salesius Swantoro. "Jokowi jangan sampai malah direpotkan oleh Cawapres yang akan mendampinginya. Ibaratnya tantangan dia untuk menang Pilpres relatif berat, jangan sampai dia malah kerepotan, keberatan 'menggendong' Cawapresnya.

Menurut saya, dari namanama Cawapres yang muncul, sebagian besar justru masuk kategori harus 'digendong' Jokowi," kata Swantoro dalam diskusi di Sekretariat PARA Syndicate, Kebayoran Baru, kemarin. Menurut dia, hanya Sri Mulyani dan Moeldoko saja yang tidak masuk kategori Cawapres yang harus digendong Jokowi. Adapun nama-nama seperti Muhaimin Iskandar, Puan Maharani, Budi Gunawan bahkan Gatot Nurmantyo masih berpotensi harus digendong oleh Jokowi.

Namun demikian ada kondisi yang serba tidak enak terkait Jokowi dengan Puan Maharani. Menurut Swantoro dalam posisi Jokowi sebagai petugas partai PDIP, maka dia tentu tidak akan mudah menolak permintaan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri, yang ingin mengajukan putrinya, Puan Maharani sebagai Cawapres.

Gandeng Tokoh Islam

"Padahal secara kalkulasi Puan itu berpotensi merepotkan Jokowi, karena ibaratnya Jokowi harus menggendong Puan. Maka bisa jadi demi kepentingan ke depannya Jokowi akan berani menolak Megawati," kata Swantoro.

Dari Jombang, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid mengatakan Joko Widodo (Jokowi) harus menggandeng tokoh Islam dalam Pemilihan Presiden 2019. "Saya kira begitu. Kalau bukan dari Islam pemilih Pak Jokowi bisa jauh berkurang," kata Gus Sholah, sapaan akrab adik kandung Gus Dur itu di Jombang, Sabtu (17/3). Menurut rektor Universitas Hasyim Asyari itu, Jokowi bisa memilih tokoh Islam dari kalangan partai politik maupun nonparpol. "Banyak pilihan.

Dari parpol misalnya Rommy (ketua umum PPPM Romahurmuziy), ia calon yang baik. Dari luar parpol misalnya Pak Mahfud MD, juga calon yang baik," katanya. Menurut mantan ketua PBNU itu, pemilihan calon wakil presiden yang tepat akan turut menentukan kemenangan pasangan capres-cawapres mendatang karena capresnya hampir pasti hanya dua, yakni Jokowi dan Prabowo Subianto.

"Calon ketiga sulit untuk diwujudkan. Jadi tinggal siapa yang jadi pendamping dua calon itu. Masih ada waktu beberapa bulan untuk menentukan," katanya. Mantan wakil ketua Komnas HAM itu pun tak setuju seandainya Pilpres 2019 hanya diikuti satu calon. "Calon tunggal kurang bagus bagi demokrasi," kata cawapres pada Pilpres 2004 berpasangan dengan Wiranto itu.

Sementara itu Ketua Umum PPP M Romahurmuziy mengatakan partainya terus berkomunikasi dengan partai-partai yang berkomitmen mengusung Jokowi pada Pilpres 2019 untuk memberikan cawapres terbaik sesuai kebutuhan Jokowi. "Kami PPPberfokus pada apaapa yang dibutuhkan presiden ke depan karena tugas wakil itu mendampingi presiden," katanya.( F4,ant-23)

SMCETAK TERKINI