14 Maret 2018 | Fokus Jateng

Tiga Sekolah Jadi Percontohan Pendidikan Reproduksi

TUGU- Koordinator Pusat Informasi dan Layanan Remaja (Pilar) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Semarang, Nona Yabloy menuturkan, sebagian remaja mempunyai perilaku berisiko. Hasil survei Pilar 2015 terkait perilaku seksual remaja pada 2.843 responden menunjukkan bahwa 73,4 persen mengaku pertama kali pacaran pada usia 10-15 tahun.

Dari responden yang sudah pacaran, mereka melakukan perilaku berisiko seperti ciuman sebanyak 24,6 persen, pelukan 43,7 persen, memegang organ reproduksi 11,2 persen, mengesek- gesekkan alat kelamin 2,4 persen, dan melakukan hubungan seks 2,2 persen. ”Kota Semarang yang memiliki jumlah penduduk usia remaja (10-24 tahun) sebesar 27 persen menjadi tantangan yang cukup besar. Jumlah penduduk remaja sebanyak 426.228 jiwa,” ujar Nona Yabloy.

Terkait hal itu, Direktur Eksekutif PKBI Jateng, Elisabet SA Widyastuti memandang pendidikan seksualitas yang komprehensif perlu diberikan kepada remaja sedini mungkin. Sekolah merupakan tempat strategis dalam pemberian edukasi tersebut. Namun, model edukasi seperti apa yang tepat dan efektif untuk diberikan kepada siswa, perlu dicari bukti.

Karena itu, dalam rangka pengumpulan bukti, PKBI Jateng bekerja sama dengan Pusat Kesehatan Reproduksi FK UGM dan John Hopkins University, akan melakukan penelitian jangka panjang pada 2018-2021. Penelitian yang dikhususkan pada siswa SMP ini akan melibatkan tiga sekolah contoh dan tiga sekolah kontrol di Kota Semarang.

”Ada satu paket materi yang termuat dalam Modul Semangar Dunia Remaja (Setara) yang akan disampaikan oleh guru Bimbingan Konseling (BK) kepada siswa kelas VII. Hasilnya akan kami pantau dan bandingkan dengan sekolah kontrol setiap tahun. Harapannya pada 2021 kami bisa menemukan model sekolah kesehatan reproduksi (kespro) yang tepat dan teruji, sehingga dapat dikembangkan secara luas,” paparnya.

Sekolah Percontohan

Tahun ini SMP 28 Semarang dipilih sebagai salah satu sekolah percontohan untuk penerapan kesehatan reproduksi dan seksualitas. Selain SMP 28, SMP 22 dan SMP 29 juga dipilih juga sebagai percontohan. Sejak Agustus 2017, guru BK memberikan edukasi kepada siswa kelas VII menggunakan modul setara.

Di akhir sesi diadakan pameran yang menjadi penanda bahwa siswa telah memperoleh informasi secara komprehensif. Kepala SMP 28, Siwinarti merasa senang dapat terlibat menjadi sekolah percontohan pendidikan kespro. Menurutnya, informasi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan anakanak sekarang.

Bahkan, tak jarang mereka saling tuding dengan temannya atau mengajukan pertanyaan di luar dugaan. Dia menjelaskan, di dalam modul Setara terdapat 27 bab yang dituangkan dalam 15 kali tatap muka. Pada modul tersebut siswa tidak hanya diajarkan tentang pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan.

Tujuannya agar terbentuk perilaku hidup bersih dan sehat. Puncak pameran Sabtu (10/3), dihadiri Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rayahu. Wakil Wali Kota menuturkan, kesehatan remaja khususnya kesehatan reproduksi dan seksualitas memiliki tantangan yang besar.(K18,H74-27)

SMCETAK TERKINI