image

SM/Aris Mulyawan - BATU PERTAMA: Menaker Hanif Dhakiri melakukan peletakan batu pertama perumahan bagi buruh migran Indonesia di Congkromenggalan, Ponorogo, Senin (18/12). (24)

19 Desember 2017 | Berita Utama

Buruh Migran Bangun 500 Rumah

PONOROGO- Sebanyak 500 rumah khusus untuk tenaga kerja Indonesia (TKI) akan dibangun di Ponorogo, Jawa Timur. Peletakan batu pertama perumahan khusus buruh migran itu dilakukan oleh Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri pada peringatan Hari Buruh Migran Internasional, Senin (18/12).

Sementara pada peringatan Hari Buruh Migran di Padepokan Reog Kabupaten Ponorogo, Menaker mengisi sarasehan dan menyerahkan secara simbolis kunci 132 rumah milik TKI yang sudah dibangun di Madiun. Selain itu, menyerahkan bantuan alat sekolah kepada anak TKI. Menaker juga menggelar dialog dengan keluarga TKI di Desa Paringan yang merupakan salah satu Desa Migran Produktif di Ponorogo.

Desmigratif

Peringatan Hari Pekerja Migran Internasional juga digelar serentak di 122 desa kantong pekerja migran (tenaga kerja Indonesia), kemarin. Desa itu yang menjalankan program Desa Migran Produktif (Desmigratif). Selain itu di 10 Atase Ketenagakerjaan Indonesia di luar negeri, yakni di Riyadh, Jeddah, Kuwait, Jordania, Abu Dhabi, Korea Selatan, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura, juga digelar peringatan serupa.

“Dengan berbagai kegiatan, mereka memperingati Hari Pekerja Migran,” kata Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja & Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, Maruli AHasoloan. Kegiatan itu dimeriahkan dengan aneka lomba yang dimeriahkan oleh anak TKI, bakti sosial, doa bersama, dan lainnya. Sebelum melakukan rangkaian kegiatan di Ponorogo, Menaker melakukan telewicara dengan keluarga TKI di Desa Ranggatalo dan Uzuramba, Ende, Nusa Tenggara Timur.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Hanif meminta kepada para anak TKI untuk tetap semangat belajar dan berjuang meraih cita-cita. Koordinator Peduli Buruh Migran Indonesia Lili Jatmiko mengatakan, pihaknya akan membangun sekitar 500 unit. “Perumahan ini tidak bersubsidi,” katanya. Dana untuk pembangunan rumah tersebut berasal dari uang kolektif para buruh migran.

“Pembelinya juga para buruh migran,” katanya. Harganya, katanya, sekitar Rp 175 juta-Rp 200 jutaan per unit. “Untuk pilot proyek dibangun 50 unit. Sudah ada eks buruh Taiwan yang pesan,” katanya. Dia mengatakan, kontraktor pembangunan rumah itu Gajahmas. Kontraktor itu dimiliki oleh mantan buruh migran.(H3-39)

Berita Lainnya