image
08 Desember 2017 | Berita Utama

Penemuan Dosen UII, Alvin Zahroni PhD

Sinyal Elektris untuk Deteksi Otak Autis

Banyak orang tua tidak mengetahui anaknya menderita autis. Kebanyakan, mereka melihat gejala itu setelah usia si anak di atas dua setengah tahun atau malah sudah menginjak usia sekolah. Ini karena belum ada pendeteksi akurat untuk mengetahui seorang anak cenderung menderita autis atau tidak.

TETAPIharapan baru akan deteksi dini anak autis kini mulai muncul. Dosen Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII), Alvin Sahroni PhD, mencoba melakukan deteksi dini otak anak-anak. Ia ingin mengetahui kecenderungan anak-anak, autis atau tidak. Meski secara internasional sudah ada susunan instrumen pendeteksian autisme yang dibakukan, dia berusaha menambah penelitian menggunakan sinyal guna memperkaya instrumen pendeteksi anak autis. ''Penelitian ini saya lakukan karena terus terang dua dari tiga anak saya menderita autis. Dari situ muncul keinginan menemukan cara pendeteksi yang lebih mudah tetapi hasilnya signifikan,'' tutur Alvin.

Pendeteksian yang mudah dan tepat menjadi bekal bagi orang tua untuk segera melakukan penanganan pada anak yang cenderung autis. Penanganan cepat dan tepat sangat bermanfaat bagi anak. Selama ini, menurut dia, masih ada yang tidak tepat dalam penanganan karena deteksi terlambat.

Dalam penelitiannya, ia memproses sinyal elektris di otak anak autis dengan menggunakan elektroensefalogram (EEG). Proses ini dilakukan pada sepuluh anak normal dan sepuluh anak autis. Mereka harus tertidur agar kooperatif dan hasilnya maksimal. Karenanya perlu untuk menidurkan mereka dengan sedasi atau obat tidur selama 10-15 menit. Sejak mereka tertidur itulah, ia memasang peralatan EEG di kepala anak-anak.

Gunakan Elektroda

Setelah tertidur, anak-anak akan ditempeli alat di bagian otak depan. Alat tersebut menggunakan sensor elektroda yang tersambung ke komputer. Komputer akan merekam dan mendata sinyal aktivitas otak yang dikirimkan dari peralatan tersebut. Nah, di monitor jelas terbaca aktivitas otak anak yang normal dan autis sangat berbeda. ''Hasilnya sangat mengagetkan. Dalam analisa sinyal EEG, kami menemukan kenyataan yang mencengangkan. Aktivitas otak anak normal mengalami penurunan saat tidur, sedangkan aktivitas otak anak autis sangat aktif dalam kondisi tertidur. Perbedaannya begitu jauh,'' papar Alvin, yang mengambil studi doktoral di Computer Science and Electrical Engineering Department Kumamoto University, Jepang.

Data yang terekam menyebutkan tampak adanya aktivitas yang berlebihan di bagian otak depan anak autis. Bahkan sangat tampak ada sel saraf yang bekerja sporadis, cenderung sangat aktif. Selama penelitian, ia menjadi tahu otak anak autis mengalami perkembangan yang tidak normal. Jika otak anak normal berkembang secara terstruktur, otak anak autis berkembang tanpa ada pola. ''Di bagian ini, saya merasa terenyuh, terbayang bagaimana otak dua anak kami yang berkembang tidak normal,'' ujarnya lirih sembari menjelaskan penelitian dilakukannya selama tiga tahun. Alvin yang juga lulusan Fakultas Teknik UII ini merasa yakin dengan cara analisa sinyal EEG bisa mendeteksi dini kondisi anak cenderung autis atau tidak. Ia berharap semakin dini deteksi dilakukan, pengobatan semakin cepat dan tepat sehingga peluang sembuh cukup besar. Keyakinan ini didasari pada kenyataan banyak anak autis yang bisa benar-benar sembuh. Tentunya ini sangat mungkin terjadi ketika diketahui sejak dini melalui deteksi EEG dan tak perlu menunggu anak sampai memperlihatkan gejala fisik autis.(Agung PW-39)

Berita Lainnya