08 Desember 2017 | Solo Metro

Tiga Wanita Luar Biasa Berbagi Cerita

SOLO-Ada yang istimewa dalam seminar Peningkatan Akses dan Akseptabilitas Bagi Penyandang Disabilitas di Perguruan Tinggi yang digelar di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, kemarin.

Dalam kesempatan itu, hadir tiga wanita yang istimewa untuk membagi kisah hidup mereka yang luarbiasa. Ketiganya yakni Priskilia Smith Jully, Laura Aurelia Dinda, dan Akmala Hadita. Mereka adalah penyandang disabilitas namun tak pernah menyerah meski perjuangan menjalani hidup sangat berat. Priskilia dan Akmala adalah penyandang tunanetra, sementara Laura penyandang tunadaksa. Namun di balik itu, Tuhan menganugerahi mereka prestasi dan bakat luarbiasa. Priskilia yang tunanetra sejak lahir. Ia terlahir tanpa pernah bisa menyaksikan terangnya dunia akibat orangtuanya yang tak menginginkan kelahirannya. Karena cacat, priska kecil sering mendapat perlakuan diskriminatif. Saat usia sekolah, keinginannya masuk sekolah tidak direspons orang tuanya.

Dia pun nekat mendaftar sendiri di sebuah SLB, bahkan dia harus membiaya sendiri sekolahnya dengan berjualan kue. Saat kelas 3 SD, Priska kecil menderita sakit parah yang membuatnya harus istirahat total dan tdk bisa bekerja. Itu artinya juga, dia tak bisa melanjutkan sekolah. ”Saya sangat kecewa dan marah pada keadaan sampai pernah ingin bunuhdiri,” kenang Priskilia.

Perempuan tunanetra asal Jambi ini mengabdikan hidupnya untuk sesama sejak tahun 2006. Puluhan orang dari kalangan yang terpinggirkan seperti penyandang disabilitas, orang terlantar dan penderita gangguan jiwa, ditampungnya di sebuah tempat yang di beri nama The School of Life di semarang. Sekolahnya kini memiliki 100 murid, dengan siswa yang terkecil berusia 7 bulan. Beda kisah dengan Akmala Hadita, dosen Universitas Garut yang berhasil meraih gelar sarjana hingga doktor dalam kegelapan. Wanita tersebut tidak terlahir tunanetra. Ia mengalami kebutaan saat kelas tiga SMA ketika mengalami kecelakaan dengan truk saat mengendarai sepeda motor. Kejadian tersebut membekas cukup lama dalam sanubarinya. Sebab pada masa awal-awal menjadi penyandang tunanetra, ia berkali kali berusaha bunuh diri lantaran tak bisa menerima musibah yang menimpanya. ”Saya bahkan tak mengikuti ujian akhir (dulu Ebtanas-red) hingga tak lulus SMA. Namun lantaran dorongan dari keluarga terdekat, akhirnya saya bisa kuat,” katanya.

Akmala berhasil bangkit dan justru bisa meraih gelar doktor meskipun dalam keterbatasan. Sementara Laura, mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) ini baru tiga tahun mengalami kelumpuhan akibat terjatuh di kamar mandi. Ia juga sempat mengalami masa-masa sulit namun kemudian memutuskan untuk bangkit hingga berhasil mencetak prestasi dengan menjadi atlet renang kebanggaan Indonesia dan meraih dua emas di ajang Paralympics.(G18-20)

Berita Lainnya