08 Desember 2017 | Semarang Metro

Gebyar Budaya Jawa Angkat Kearifan Lokal

GUNUNGPATI- Kearifan lokal menjadi pembahasan utama dalam ”Gebyar Jawa” yang digelar Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes, di Kampus Sekaran, Gunungpati. Mereka juga mengangkat kekayaan budaya pesisir.

Dalam acara ini, digelar berbagai kegiatan, antara lain kirab budaya mengelilingi kampus, pementasan kesenian, dan Dhuta Sinjang yaitu peragaan busana dengan bahan dasar batik. Kegiatan itu diikuti ratusan peserta yang terdiri atas dosen dan mahasiswa.

Acara itu digelar untuk memperingati ulang tahun Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes. ”Bahasa sebagai salah satu produk budaya yang menyimpan kearifan melalui ungkapan. Misalnya, aja adigang adigung adiguna, aja rumangsa bisa nanging bisa rumangsa. Itu bisa dihayati untuk menjadi pengingat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pendekatan kekinian untuk mendekatkan produk kebudayaan kepada generasi muda diperlukan,” kata Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Agus Nuryatin.

Menurutnya, inovasi harus dilakukan supaya generasi muda mengenal dan tidak semakin jauh dari kebudayaannya. Dalam kebudayaan, tersimpan nilai-nilai luhur yang diyakini mampu menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan pada era global. ”Keluhuran tersebut tercipta karena produk budaya telah tertempa dalam waktu yang sangat lama dan bertahan dari gerusan zaman,” paparnya.

Kekayaan Budaya

Dia menjelaskan, mahasiswa didorong mengembangkan dan menggali kembali kekayaan budaya, termasuk budaya pesisir. Sebab, budaya pesisir juga memberi sumbangsih penting bagi perkembangan kebudayaan secara global. ”Di dalamnya, terdapat percampuran budaya yang dibawa para pendatang yang relatif lebih heterogen ketimbang budaya pedalaman atau keraton,” katanya.

Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Widodo memaparkan, Dhuta Sinjang mendukung mahasiswa untuk menjadi wakil mahasiswa dalam berbagai acara. Diperlukan tidak hanya bagus secara fisik tetapi juga pribadi dan komunikasi. ”Dilakukan secara parade dengan memamerkan kreasi batik. Mereka juga mengemukakan sejumlah gagasan dalam bahasa Jawa ragam karma terkait dengan kebudayaan dan berbagai hal terkait kampus,” kata Widodo.

Dia mengemukakan, sepanjang tahun Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa tidak pernah sepi dari kegiatan terutama dalam bidang kebudayaan. Pada 2017 mahasiswa jurusan memenangi sejumlah kompetisi tingkat nasional, antara lain lomba macapat, lomba karawitan, dan lomba kepenulisan. ”Kami terus memberi ruang mahasiswa untuk berkarya, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Dalam bidang akademik, mahasiswa juga terus dibimbing untuk melakukan penulisan ilmiah,” jelasnya.(akv-22)

Berita Lainnya