08 Desember 2017 | Internasional

Palestina Percepat Proses Penyerahan Kekuasaan Gaza

KOTA GAZA- Otoritas Palestina mempercepat proses penyerahan kekuasaan atas Gaza dari Hamas kepada pemerintahan Presiden Mahmud Abbas, setelah Presiden AS Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Di bawah mediasi Mesir, Hamas dan Fatah mencapai kesepakatan rekonsiliasi. Disepakati batas waktu 1 Desember lalu agar kekuasaan atas Gaza diserahkan kepada pemerintahan Abbas. Namun, batas waktu itu diundur hingga 10 Desember karena perbedaan pendapat. Pengumuman Trump yang secara resmi mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada Rabu (6/12) waktu setempat, memicu kemarahan Palestina.

Jerusalem Timur sejak lama dipandang sebagai Ibu Kota negara Palestina di masa mendatang. Hamas yang mendominasi Gaza telah menyerukan kepada warga Palestina untuk melakukan intifada terhadap Israel. Hamas juga meminta pemerintahan Presiden Abbas untuk meninggalkan upaya perdamaian yang disponsori AS.

Karena khawatir dampak pengakuan Trump itu akan mengganggu upaya rekonsiliasi, Otoritas Palestina mempercepat proses penyerahan kekuasaan atas Gaza. Pada Kamis (7/12) kemarin, PM Palestina Rami Al-Hamdallah bersama sejumlah delegasi Fatah datang mengunjungi Gaza untuk bertemu Hamas. ’’Babak bersejarah ini memerlukan kita semua bersatu dan mempercepat langkah- langkah penyatuan Tanah Air,’’ ucap Al-Hamdallah kepada wartawan setempat.

Bentrok Sengit

Usai Hamas menyerukan intifada atau perlawanan, puluhan warga Palestina berkumpul di dua titik di dekat pagar perbatasan Gaza dengan Israel. Mereka melempar batu ke arah tentara Israel yang menjaga perbatasan. Terjadi bentrok sengit antara polisi Israel dan para pengunjuk rasa sehingga mengakibatkan sejumlah warga Palestina luka-luka. Aksi protes juga muncul di dalam wilayah Gaza.

Ribuan warga Palestina membakar bendera AS dan Israel serta meneriakkan slogan-slogan anti-AS. Secara terpisah, Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan puluhan orang mengalami luka-luka akibat gas air mata, tembakan peluru karet dan peluru tajam dalam aksi protes di Tepi Barat.

Sementara itu, di tengah ketegangan atas keputusan Trump tersebut, militer Israel menangkap 35 warga Palestina dalam operasi di wilayah Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Sekitar 22 warga ditangkap di Desa Kasra dekat Nablus di Tepi Barat bagian utara dan 13 lainnya ditangkap di Ramallah, Jenin, dan Jerusalem Timur. Dari Washington dikabarkan Deplu AS mengeluarkan peringatan perjalanan ke Israel.

Seluruh diplomat dan warga negara AS diserukan untuk menunda perjalanan ke Israel, Jerusalem, dan Tepi Barat hingga 20 Desember mendatang. Peringatan perjalanan itu dikeluarkan karena kekhawatiran akan aksi-aksi demo terkait keputusan Presiden Trump mengenai status Jerusalem dan rencana pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem.(afp,rtr-25)

Berita Lainnya