image

SM/Arief Noegroho - BAGIKAN LEAFLET : Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi membagikan leaflet tentang HIV/AIDS kepada karyawan pabrik. (19)

08 Desember 2017 | Suara Banyumas

10 Bayi dan 22 Balita Terinfeksi HIV

  • Penderita AIDS Meningkat

PURBALINGGA- Jumlah penderita HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus and Acquired Immune Deficiency Syndrome) di Kabupaten Purbalingga selama tahun 2017 meningkat.

Peningkatan kasus itu hampir 3 kali lipat dibandingkan kasus HIV/AIDS tahun 2016. Selain itu terjadi pergeseran faktor risiko pada penderita kasus ini. Pada periode 2010-2016 di Kabupaten Purbalingga terdapat 168 kasus HIV/AIDS di mana 14 penderita di antaranya meninggal dunia. ''Sedangkan pada Januari 2017 hingga Oktober 2017 ini terdapat 60 kasus, dengan 12 penderita di antaranya meninggal dunia,'' kata Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi. Pada 2017 ini terjadi peningkatan yang signifikan dibanding 2016. Peningkatannya hampir tiga kali lipat.

Kalau pada 2016 periode Januari-Desember hanya ada 23-25 kasus, pada 2017 ini sudah terdapat 60 kasus. Menurut Wabup, faktor resiko HIV/AIDS pada 2017 juga mengalami pergeseran. Kalau pada kasus-kasus sebelumnya faktor resikonya lebih pada kaum heteroseksual.

Pada 2017 ini ada pergeseran di mana banyak ditemukan kasus HIV/AIDS pada kaum lajang yakni pada kaum muda usia produktif yang berumur antara 18ñ26 tahun. ''Kami bahkan menemukan banyak balita dan bayi yang terinfeksi HIV dari ibunya. Saat pemantauan pekan layanan HIV/AIDS belum lama ini saya menemukan 22 balita dan 10 bayi terinveksi HIV.

Sungguh saya sangat miris,'' kata Wabup. Kondisi tersebut, diharapkan Wabup menjadi keprihatinan bersama semua stakeholder karena kasus HIV/AIDS sejatinya seperti fenomena gunung es. Di mana kondisi yang terpantau hanya dipermukaannya saja, dan dimungkinkan kondisi yang sesungguhnya jauh lebih banyak dari pada yang terpantau.

''Saya yakin masih banyak penderita HIV/AIDS di luar data yang belum terdeteksi. Ini harus kita cari. Karenanya tahun ini kita lakukan pekan pelayanan HIV, untuk mencari penderita lain agar perkembangan virus HIV bisa ditekan sekaligus untuk melakukan deteksi dini,'' katanya.

Wabup meminta kepada para kader kesehatan, kepala puskesmas dan KUA agar deteksi dini HIV/AIDS juga digalakkan kepada para calon pengantin. Setiap calon pengantin yang akan menikah, hendaknya melakukan pre-skrining atau premarital test berupa tes HIV. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya mengurangi penyebaran HIV.

''Di samping itu, setiap ibu hamil di premester awal 3-4 bulan kehamilan juga diimbau untuk melakukan tes HIV. Sekarang sudah bisa dilakukan di semua layanan kesehatan,'' tambahnya. Sementara Bupati Tasdi menyatakan, tanggung jawab pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya menjadi tanggungjawab Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) saja. ''Mustahil KPAbergerak sendirian tanpa adanya sinergi dari berbagai elemen baik itu pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Pendidikan karakter menjadi benteng penyebaran HIV/AIDS di kalangan generasi muda,'' katanya. Bupati juga merasa prihatin dengan meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Purbalingga. Dalam lima tahun terakhir, penyandang HIV/AIDS meningkat signifikan. ''Ini menjadi keprihatinan kita bersama,'' katanya.(F10-19)

Berita Lainnya